Showing posts with label penyuluhan. Show all posts
Showing posts with label penyuluhan. Show all posts

Thursday, March 17, 2016

Kelembagaan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS)

POKMASWAS аdаlаh kelompok masyarakat pengawas уаng merupakan komponen masyarakat уаng berpotensi ikut secara aktif dalam pengawasan perikanan dараt terdiri dаrі unsur agama, unsur adat, nelayan, petani, pengusaha dibidang perikanan.





POKMASWAS ѕеbаgаі partisipasi aktif уаng difasilitasi pemerintah. Adapun sasaran dibentuknya POKMASWAS, аdаlаh pertama terbentuknya mekanisme pengawasan berbasis masyarakat, уаng secara integratif dilakukan оlеh pemerintah, masyarakat, organisasi non pemerintah, serta dunia usaha dеngаn tetap mengacu kepada peraturan dan perundangan уаng berlaku.

Bеrіkut presentasi ѕауа mengenai kelembagaan POKMASWAS уаng disampaikan pada pelatihan kelautan dan perikanan angkatan 11 bidang pengelolaan kawasan konservasi mangrove bagi masyarakat perikanan Kabupaten Subang dan Karawang.




untuk file aslinya silahkan download disini

Thursday, March 3, 2016

Kewirausahaan

Secara harfiah Kewirausahaan terdiri atas kata dasar wirausaha yang mendapat awalan ked an akhiran an, sehingga dapat diartikan kewirausahaan adalah hal-hal yang terkait dengan wirausaha. Sedangkan wira berarti keberanian dan usaha berarti kegiatan bisnis yang komersial atau non-komersial, Sehingga kewirausahaan dapat pula diartikan sebagai keberanian seseorang untuk melaksanakan suatu kegiatan bisnis.
Ilustrasi kewirausahaan
Kewirausahaan (Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah : 
  • Proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.
  • Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang dan  cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu (usaha).
  • Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru.
Beberapa definisi Kewirausahaan menurut ahli :
  • Richard Cantillon (1775): misalnya, mendefinisikan kewirausahaan sebagai bekerja sendiri (self-employment).
  • Penrose (1963): kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi .
  • Harvey Leibenstein (1968, 1979):  kewirausahaan mencakup kegiatan yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
  • Peter Drucke : kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. 
Secara etimologi Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. 
  • Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung.
  • Usaha adalah perbuatan amal, bekerja, dan berbuat sesuatu.Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu.
Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan.
Ilustrasi kewirausahaan
Seorang wirausahawan (entrepreneur) HARUS mempunyai cara berpikir yang berbeda dari manusia pada umumnya. Mereka mempunyai motivasi, panggilan jiwa, persepsi dan emosi yang sangat terkait dengan nilai nilai, sikap dan perilaku sebagai manusia unggul.

Sejarah Kewirausahaan
Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja.

Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang

Sumber : Materi Kewirausahaan pada Pelatihan Kelautan dan Perikanan di Kab. Lebak 2016

Semoga Bermanfaat...

Thursday, October 22, 2015

Cara Memproduksi Fillet Ikan (1)

Potensi ekspor fillet ikan ke beberapa negara, terutama ke Amerika dan Eropa diperkirakan akan berkembang terus sesuai dengan permintaan di negara-negara tersebut yang makin meningkat. Sementara itu potensi bahan baku di Indonesia cukup banyak untuk dimanfaatkan.

Produk ini lebih rentan terhadap kontaminasi dan penurunan mutu dari pada produk ikan utuh. Konsekuensinya, penanganan dan pengolahan membutuhkan ekstra perhatian yang melebihi komoditas olahan lain. Penerapan rantai dingin serta sanitasi dan higiene yang ketat merupakan persyaratan utama agar memperoleh produk yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

BAHAN DAN ALAT
Bahan Baku
Ikan air laut maupun tawar yang berukuran sedang dengan bentuk bulat atau pipih, misalnya : lele, kakap, nila, ikan sebelah, pari, dan lain-lain.
Jenis ikan yang dapat digunakan untuk membuat fillet ikan

Jenis ikan yang digunakan sebagai bahan mentah untuk pengolahan fillet ikan bermacam-macam, baik ikan laut atau ikan air tawar yang umumnya berukuran sedang, dengan bentuk ikan yang badannya bulat maupun yang pipih.

Bahan mentah harus betul-betul segar, tidak hanya untuk memperoleh produk yang bermutu tinggi tetapi juga untuk kemudahan dalam operasi pem-fillet-an. Ikan disiangi sesegera mungkin setelah tertangkap, karena bila sekali darahnya mulai beku maka daging akan mengalami diskolorasi sehingga mustahil mendapatkan fillet putih dan  menarik.

Bahan mentah disimpan dengan kondisi yang baik untuk mempertahankan mutu sampai saatnya dilakukan pem-fillet-an. Sortasi bahan mentah perlu dilakukan untuk memisahkan ikan yang tidak layak diolah, baik ikan yang kesegarannya telah menurun maupun ikan yang cacat atau terkontaminasi oleh bahan-bahan yang mempengaruhi penerimaan produk.

Peralatan
  1. Pisau. Pisau yang digunakan untuk penyayatan fillet umumnya berbentuk panjang dan ramping. Kadang-kadang untuk pengulitan fillet lebih disukai pisau fillet yang sudah usang sehingga bentuknya lebih tipis dan ramping. Jenis-jenis pisau lainnya juga harus tersedia sesuai dengan jenis pekerjaan seperti membuang sirip, memotong tulang belakang, dan lain-lain.
    Pisau fillet
  2. Pengasah pisau. Pisau untuk memfillet ikan harus tajam agar sayatan daging ikan permukaannya halus. Pisau harus diasah dalam dua tahap. Pengasahan pertama dengan gerinda atau batu asah guna memperoleh bentuk sudut dan ujung yang dikehendaki lalu pengasahan kedua dengan pengasah batang baja bulat yang bergerigi halus. Pengasah baja sangat sering digunakan pada waktu kerja.
    Pengasah pisau
  3. Talenan. Terbuat dari papan kayu atau lebih baik lagi papan komposit (sejenis plastik) karena mudah dibersihkan dari pada papan kayu.
    Talenan
  4. Meja. Meja pem-fillet-an harus dibuat dengan konstruksi dari aluminium atau baja tahan karat pada permukaannya dan mudah dibersihkan. Bagian tengah dari meja harus lebih rendah dari permukaan meja kerja dan harus mempunyai lubang penirisan.
    Meja Stainless Steel
  5. Pakaian kerja. Pakaian pelindung selama kerja dalam pemfilletan maupun pengepakan harus dikenakan untuk mengurangi kontaminasi dan menjaga kebersihan seperti apron yang berlapis karet, topi dan sepatu boot.
Seragam pada saat memfillet ikan
Lanjutan...

Tuesday, October 13, 2015

Mengenal Jangkar

Untuk membuat kapal atau perahu berhenti pada suatu tempat diperairan maka diperlukan sebuah jangkar.Sselain itu biasanya juga digunakan ketika kapal atau perahu berhenti di perairan untuk maksud-maksud tertentu dalam waktu yang relatif lama atau ketika kapal mengalami gangguan, rusak atau mogok.
Jangkar
Pengadaan jangkar tergantung:
  1. Ukuran kapal
  2. Tipe perairan
  3. Tujuan penggunaan jangkar

Multak harus ada di atas kapal, karena merupakan jaminan keselamatan bagi kapal untuk tiba ditempat tujuan dengan selamat memperkecil kemungkinan bahaya di laut syarat layak laut.

Clisold n Lynn membedakan jangkar menjadi 7 jenis yaitu :
  1. Admiralty pattern anchor
    Admiralty pattern anchor
  2. Stockless anchor, digunakan untuk dasar perairan berkarang dan berlumpur halus. Semakin besar ukuran jangkar akan semakin efisien
    Stockless anchor
  3. Plough anchor, digunakan pada kapal-kapal berukuran kecil
    Plough anchor
  4. Danforth anchor, digunakan untuk kapal-kapal besar dan kapal tanker
    Danforth anchor
  5. Light fold anchor. Digunakan untuk kapal/perahu yang berukuran kecil
    Light fold anchor
  6. Mushroom anchor. Digunakan pada kapal - kapal kecil dan untuk tujuan berlabuh (mooring) baik di laut maupun di pelabuhan.
    Mushroom anchor
  7. Grafwell anchor. Digunakan untuk dasar perairan berkarang dan berpasir

Secara umum jangkar dibedakan menjadi :

1. Jangkar Paten (Jangkar Tak Bertongkat)
  • Mempunyai 2 lengan, yaitu lengan tetap yang tidak dapat digerakkan dan lengan tidak tetap yang dapat digerakkan terbuat dari besi.
  • Ukurannya besar (untuk kapal-kapal tanker, kontainer, penumpang,kapal penangkap ikan skala besar.
  • Tali jangkar menggunakan rantai.
  • Penyimpanan pada sarang jangkar.
  • Perlu alat khusus untuk mengoperasikan jangkar.
2. Jangkar Bertongkat
  • Punya 2 lengan berupa lengan tetap
  • Terbuat dari besi
  • Umumnya berukuran kecil sampai sedang (untuk kapal-kapal barang, penumpang atau kapal penangkap ikan yang berukuran kecil)
  • Tali jangkat dapat terbuat dari rantai, tali besi/baja ataupun tali manila
  • Penyimpanannya harus dinaikkan keatas dek kapal dibagian haluan
3. Jangkar Luku
  • Mempunyai 1 lengan
  • Berukuran kecil (umumnya hanya digunakan pada kapal ikan berukuran kecil)
  • Penyimpanannya harus dinaikkan keatas dek
  • Tali jangkar terbuat dari tali besi/baja atau tali manila
4. Jangkar Sekoci
  • Mempunyai 4 lengan
  • Terbuat dari besi berdiameter 10 -15 meter
  • Dibuat dalam ukuran kecil (umumnya untuk kapal-kapal perikanan berukuran kecil sampai sedang)
  • Penyimpanannya dinaikkan keatas dek pada bagian haluan kapal
5. Jangkar “danforth”
  • Mempunyai 2 lengan
  • Mempunyai sebuah palang (besi) yang terletak dibawah tajuk jangkar untuk mempercepat tenggelamnya jangkar ke dasar perairan
  • Terbuat dari besi dan berukuran sedang sampai besar (umumnya digunakan pada kapal perang)
  • Penyimpananya digantung pada sarang jangkar
  • Lengan jangkat dapat bergerak kekanan atau kekiri

Sumber : Materi Pelatihan Penangkapan Ikan BPPP Tegal

Semoga Bermanfaat...

Wednesday, October 7, 2015

Cara Pemeliharaan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Alami

PELAPUKAN
Faktor-faktor yang menyebabkan pelapukan serat yang mengandung cellulose adalah:

  1. jenis serat
  2. suhu air
  3. daya pelapuk air
  4. durasi terendamnya
Perawatan alat penangkap ikan


PENCEGAHAN PELAPUKAN
Metode pengawetan, yang menunjukkan efektivitas tinggi adalah: metode testalin dan metode tannin plus potassium bichromate (Klust, 1973).


1. Metoda Testalin

Menurut Klust (1973) jaring yang terbuat dari serat alami direbus selama 30 menit dalam larutan yang terdiri dari agent tannin (2%) yang ditambah cuprous oxide (1%). Setelah jaring dikeringkan, perlakuan diulangi lagi dengan menambahkan 2% tannin tanpa testalin. Ada juga setelah perlakuan kedua selagi webbing masih basah dicelup dengan carbolineum.



2. Metode tannin plus potassium bichromate
Metoda tannin plus potassium bichromate (terbaik untuk bahan alat penangkap ikan), dilakukan dengan cara : Webbing  yang terbuat dari serat alami direbus selama 30 menit dalam larutan yang terdiri dari agent tannin (2%)  Setelah webbing dikeringkan, direndam selama satu jam dalam larutan potassium bichromate (3%), kemudian dicuci dengan air dan dikeringkan.

Proses ini diulangi dengan menambahkan tannin (2%).  Selanjutnya webbing dicelup dalam larutan carbolineum. Kedua metode ini menyebabkan seluruh permukaan serat terbungkus oleh anti bakteri, merembes ke kulit ari (cuticle) dan dinding-dinding cell.


PENGAWETAN
Tujuan pengawetan (preservation) untuk serat alami secara umum dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Sterilisasi
Sterilisasi adalah sutau metode membunuh bakteri-bakteri pembusuk yang sudah ada dan hidup di dalam alat (diantara serat). Metode ini dapat dilakukan dengan cara merebus bahan di media air pada suhu dibawah titik leleh bahan dan dapat pula dilakukan dengan cara menjemurnya dibawah sinar matahari langsung. Kedua cara ini tidak menggunakan bahan pengawet.

2. Proteksi
Proteksi adalah suatu metode melindungi bahan  dari pengaruh dan aktifitas bakteri-bakteri pembusuk.Proteksi ini salah satunya dapat dilakukan dengan cara melapisi bahan dengan suatu lapisan tipis (film) dari larutan tembaga sulfat, larutan produk minyak, atau larutan nabati.

3. Gabungan sterilisasi dan proteksi.
Metode pengawetan ini adalah menggabungkan metode pengawetan sterilisasi dan metode pengawetan proteksi. Metode ini dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mensterilkan bahan kemudian memproteksinya.
























Wednesday, September 23, 2015

Bahan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Buatan

Serat buatan (man mad fiber) atau dikenal juga dengan serat sintetis. Sintetis adalah suatu teknologi untuk suatu proses kimia dimana elemen-elemen kimia atau subtansi dasar digabung melalui suatu proses yang rumit sehingga terbentuk produk akhir yang betul-betul baru dengan penggunaan yang baru pula.
Benang
Serat buatan secara sintetis terbuat dari subtansi dasar seperti phenol, benzene, acetylene, prussic acid, chlorine, oleh karenanya disebut “synthetic fiber”.

Tahapan Pembuatan Serat Sintetis
Klust (173) menjelaskan bahwa tahapan pembuatan serat di prabrik secara umum melalui lima tahapan, yaitu :
  1. Penyediaan bahan baku
  2. Pembentukan  macro-molecules yang diperoleh dari  suatu proses kimia
  3. Polymerisasi (polymerization atau polycondensation)
  4. Pengubahan substansi menjadi serat dengan memilin lelehannya
  5. pemintalan serat untuk membentuk benang, sekaligus meningkatkan kekuatan putusnya.
Skema   proses  pembuatan  tali  dari  serat  alami  (hemp) sampai menjadi produk tali (Taito Synthetic Rope).
Skema proses pembuatan tali dari serat alami sampai menjadi produk tali

Skema  proses  pembuatan  tali  dari  sintetis  sampai menjadi produk tali (Taito Synthetic Rope).


Istilah - istilah

  1. Hackling : Proses membuang serat-serat yang keluar dari benang
  2. Silvering : Proses mengubah warna dari coklat kusam menjadi keperak-perakan
  3. Spinning : Proses memilin serat menjadi yarn
  4. Stranding : Proses memintal yarn menjadi twine atau rope
  5. Closing : Proses menggulung rope menjadi coil
  6. Inpection : Proses pengujian kualitas mutu
  7. Product : Hasil akhir berupa rope
  8. Joining : Proses penggabungan sejumlah serat untuk dipilin menjadi yarn
  9. Twisting : Proses pemintalan yarn menjadi strand
  10. Finishing : Proses pemintalan strand menjadi twine untuk pembuatan rope, dan proses penyimpulan pada pembuatan webbing
  11. Heat setting : Proses pendinginan dan pengencangan pintalan pada rope
Mesin pemroses bahan baku dan Mesin pemintal benang

Mesin pembuat tali anyam dan Mesin pembuat webbing grascel

Mesin pembuat webbing yang disimpul dan Proses pengencangan webbing

Contoh kemasan benang jaring

Kemasan benang nilon

Kemasan benang cotton

Kemasan benang PE

Berbagai macam sifat bahan dalam pembuatan BAPI :
  1. Berat jenis yang sesuai
  2. Kecepatan tenggelam
  3. Daya tahan terhadap tarikan
  4. Daya tahan terhadap gesekan
  5. Daya tahan terhadap pembusukan
  6. Elastisitas/kekenyalan
  7. Daya tahan terhadap pengaruh air laut





Monday, September 14, 2015

Bahan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Alami Mineral


Serat mineral terbentuk secara alami, baik sebagai serat maupun modifikasi dari mineral. Serat mineral dapat dikategorikan sebagai berikut :
  1. Asbestos : Satu-satunya serat mineral yang terbentuk secara alami.  Jenisnya adalah serpentine (chrysotile), amphiboles (amosite, crocidolite, tremolite, actinolite, dan anthophyllite)
  2. Serat keramik (Ceramic fibers) : Glass fibers (Glass wool dan Quartz), aluminum oxide, silicon carbide, dan boron carbide.
  3. Serat metal (Metal fibers): Aluminum fibers 






Sumber : Materi Bahan Alat Tangkap Ikan, Yusrizal

Semoga Bermanfaat...

Thursday, September 10, 2015

Bahan Alat Penangkap Ikan Dari Serat Alami Hewani

Serat hewani (Animalfiber) umumnya sebagian besar  terdiri  dari  protein, yang  secara   langsung dapat digunakan adalah sutra (silk), bulu (hair/fur) atau dikenal dengan nama wool. Serat hewani yang umum diggunakan adalah yang berasal dari bulu.

Ulat Sutera dan Proses Pemintalan
Benang Sutera




Sumber : Materi Bahan Alat Tangkap Ikan, Yusrizal

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, August 4, 2015

Teknik Budidaya Cacing Sutera

Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada kolam tanah, kolam plastik maupun di rak nampan plastik bertingkat. Semua wadah mempunyai keunggulannya masing - masing. Namun yang paling mudah dan menghemat ruang adalah budidaya cacing sutera pada rak nampan plastik bertingkat.
Cacing Sutera
Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi. Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : 
  1. Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada    nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.
  2. Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.
  3. Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya. Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 

  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh. 
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada 
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra

Rak nampan plastik bertingkat
Perkembangbiakan Cacing Sutera
Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra ( Tubifek sp ) adalah termasuk organism hermaprodit. Pada satu individu organism ini terdapat dua alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matengtelur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto ( 1986 ), telur cacing sutra terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1,5-2,5cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen.Setelah beberapa hari embrio cacing sutra akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi cacing sutra mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari

Syarat Hidup Cacing Sutera
Cacing sutra memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagianorganik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari .

Cacing sutera yang dikenal sebagai cacing rambut ini dapat hidup pada subtract lumpur dengan kedalaman antara 0 – 4 cm. pada prinsipnya Sama dengan hewan air lainnya, namun dalam kehidupannya cacing sutera ini senang dengan air, dan air memiliki peran  fungsi yang sangat penting untuk hidup tumbuh berkembang dengan baik diperlukan kwalitas air yang sesuai yaitu:
  • Pada pH : 5,5 – 8.0
  • Suhu yang baik antara 25 – 28 derajat celcius
  • DO ( oksigen terlarut ) : 2,5 – 28 ppm
  • Untuk kebutuhan debit air secukupnya dan tidak terlalu besar mengingat cacing ini sangat kecil
Cacing sutra tergolong hewan hermaprodit yang berkembangbiak melalui telur dengan pembuahan secara eksternal. telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah jadi dua sebelum saat menetas.

Makanan Cacing Sutera
Semua bahan organik yang dilemebekkan alangkah bagusnya jika difermentasi, jika difermentasi akan meningkatkan kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh cacing sutra. Di alam fermentasi itu terjadi secara alami, sehingga menumbuhkan tumbuhan ganggang yang bervilamen dan pakan alami seperti fittoplankton, yooplankton dan Hewan kecil lainnya . Itulah sebagian makanan cacing sutra dialam. Untuk pakan budidaya cacing sutra yang paling efisien menggunakan ampas tahu yang di fermentasi, karena ampas tahu sudah steril dan lembek. Ampas tahu bisa ditambahkan lagi dengan buah-buahan, tepung ikan, dan bahan yang mudah didapat.

Pembuatan Media Hidup Cacing Sutera
  1. Ambil Lumpur Kolam yg mengandung pasir yang Sudah Disaring
  2. Siapkan Kotoran Ayam  dan ampas tahu yg sudah difermentasi, bahan makanan tsb dicampur dengan perbandingan kohe 1 ampas tahu 10.
  3. Pencampuran makanan tadi dicampur lagi dg Lumpur media. Dg perbandingan makanan 1 lumpur halus 7. kemudian diamkan selama minimal 1 hari.
  4. Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul, yg sudah difermentasi.
Panen
Untuk mencapai masa panen, budidaya cacing sutra sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika cara beternak yang diterapkan sudah benar, maka cacing sutra sudah dapat dipanen setelah 8 sampai 10 hari sejak penebaran bibit. Setelah itu, hasil panen sudah dapat dijual di tempat-tempat penjualan pakan ikan atau di toko ikan.

Panen cacing sutera perdana sekitar 2 bulanan kemudian dapat dilakukan 7 – 10 hari sekali. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.

Konsep panen cacing sutera ialah mengurangi koloni, yaitu jika bagian atas dipanen maka bagian bawah cacing akan tumbuh. Dalam satu wadah/nampan bisa menghasilkan 100-150 ml cacing sutera.Panen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Pemanenan cacing sutra dilakukan dg mengambil ca-sut yg ada dipermukaan bersama lumpurnya.Setelah terkumpul, hasil panen casut dicuci dg jaring khusus sampai lumpur halus keluar. Kemudian tiriskan sebentar.
Letakkan cacing sutrayg masih bercampur lumpur kasar kedlm wadah dg ketebalan 3-4 cm.


Semoga Bermanfaat...

Friday, July 10, 2015

Mengenal Cacing Sutera dan Peluang Usahanya

Jika diperhatikan, sebenarnya ada banyak jenis budidaya yang memiliki nilai ekonomis. Salah satu jenis budidaya yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah budidaya cacing sutra. Tampaknya jenis budidaya ini memang aneh. Bahkan banyak yang menganggap bahwa cacing yang satu ini tidak terlalu menguntungkan. Namun sebenarnya cacing ini sangat bermanfaat terutama sebagai pakan beberapa jenis  larva ikan. Karena itulah tidak mengherankan jika ada banyak orang yang mencari-cari cacing sutra.
Cacing Sutera
Untuk membudidayakan cacing sutra, tentunya calon pembudidaya juga harus mengetahui cara ternak cacing sutra dengan benar. Sebenarnya cara memelihara cacing sutra tidaklah sulit. Yang diperlukan hanya tempat yang cukup untuk menempatkan cacing sutra dan bahan organik yang biasa digunakan oleh cacing sutra. Bahan organik yang biasa digunakan untuk membudidayakan cacing rambut adalah campuran antara kotoran ayam, dedak dan lumpur. Menemukan bahan-bahan organik tersebut juga sangat mudah.

Mengenal Cacing Sutera
Cacing sutra (Tubifex sp), menurut Gusrina (2008) memiliki klasifikasi sebagai berikut :
  • Filum : Annelida
  • Kelas : Oligochaeta
  • Ordo : Haplotaxida
  • Family : Tubifisidae
  • Genus : Tubifex
  • Spesies         : Tubifex sp.

Gerombolan cacing sutera
Cacing sutra  meruipakan organisme air tawar yang  memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan si Rambut Emas Merah. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagian organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.


Sifat Cacing Sutera
  • Menyukai kegelapan dan sensitif terhadap sinar
  • Mempunyai dua kelamin, tetapi tidak bisa membuahi diri sendiri
  • Kanibal 
  • Apabila stress atau tidak nyaman, cacing sutra akan menggerombol
Rak - Rak budidaya cacing sutera
Mengapa Cacing Sutera Perlu Dibudidayakan?
  • Cacing sutra merupakan suatu kebutuhan pokok bagi larva ikan, semua pemijah ikan pada umumnya sudah tahu kalau pakan alami larva ikan adalah cacing sutra, sangat bagus untuk pengembangan larva ikan, sehingga ikan sehat dan aman, karena kalau kebanyakan memasukkan cacing sutra kedalam kolah, airnya tidak terkontaminasi.
  • Harga mahal dan barangnya kadang langka, Pada saat tertentu terutama musim hujan, cacing sutra di alam langka dikarenakan terhanyut oleh banjir, sementara indukan lele musim bertelur, sehingga terjadi kekurangan pakan alami, hal tersebut penyebab mahalnya harga cacing sutra. Dengan adanya budidaya cacing sutra ini mengurangi kelangkaan pakan alami .
  • Mencegah virus atau bakteri pantogen masuk kekolam pembenihan, Dengan adanya budidaya, virus patogen dari alam tidak akan masuk kedalam kolam, karena cacing budidaya lebih steril daripada cacing sutra dari alam
  • Pakan budidaya cacing sutra murah, Pakan cacing sangat mudah didapatkan dan murah harganya. Hampir semua bahan yang makanan yang bisa dimakan oleh manusia jika busuk bisa dijadikan makanan cacing susah, misalnya nasi basi, sayur-sayuran busuk, ampas tahu, ampas ketela pohon, roti kadaluarsa, susu kadaluarsa, dll . atau bisa mengumpulkan sisa makanan dari warung makan disekitar anda.
  • Modal kecil hasil lumayan, Untuk pembuatan sarana dan prasrana budidaya cacing sutra, sangat mudah dan murah, sedangkan tempat yang dibutuhkan untuk budidaya tidak memerlukan tempat yang luas, bahkan tempat yang sempit sekalipun . 
Dengan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa modal pakan yang dibutuhkan budidaya cacing sutra sangat murah dan mudah didapat . Sehingga biaya produksi lebih lecil, maka keuntungan lebih besar .

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, July 7, 2015

Budidaya Kepiting Bakau

Faktor teknik yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya pembesaran kepiting, antara lain :
1. Pemilihan Lokasi Budidaya
Pemilihan lokasi budidaya harus tepat secara teknis operasional dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut :
  • Mutu air : Salinitas 15 - 30 ppt, pH air 7 - 8, Suhu 25 - 30 derajat Celcius, Kandungan Oksigen > 3 ppm.
  • Mudah diawasi.
  • Substrat dasar tambak adalah lumpur berpasir.
  • Untuk sistem karamba harus terhindar dari pengaruh banjir dan mudah terjangkau oleh pasang surut.
  • Merupakan wilayah penangkapan kepiting.
Lokasi budidaya kepiting bakau
2. Tempat pemeliharaan
Tempat pemeliharaan kepiting bisa berupa kurungan bambu, waring, maupun bak beton. Untuk tempat pemeliharaan kepiting yang berasal dari kurungan bambu (karamba) disarankan berukuran 1,5x1x1 meter atau 2x1x1 meter, hal ini bertujuan memperrmudah pengelolaannya terutama pada waktu mengangkat karamba di waktu panen.
Karamba yang dapat digunakan untuk budidaya kepiting bakau
3. Pemilihan Benih
Kesehatan benih merupakan satu diantara faktor yang menunjang keberhasilan dalam usaha penggemukan kepiting. Oleh sebab itu pemilihan dan pengelolaan benih harus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari kelengkapan kaki-kakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan untuk memegang makanan yang dimakan serta kemampuan sensorisnya. Walaupun pada akhirnya setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlukan waktu, belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga kepiting yang tidak bisa jalan karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar serta pergerakannya lamban.
Benih kepiting bakau
4. Pengangkutan Benih
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan terhadap perubahan lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian dalam jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Tereksposenya benih kepiting ke dalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya cairan dalam tubuh kepiting akan keluar semuanya sehingga menyebabkan kematian. Tingginya kematian benih setelah sampai tempat tujuan biasanya disebabkan karena benih yang dibeli memang sudah lemah akibat sudah ditampung beberapa hari oleh pedagang pengumpul. Biasanya kematian kepiting terjadi setelah hari ke-4 dalam penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam pengangkutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting dalam posisi hidup. Wadah sterofoam dengan panjang 1 m dan lebar 60 cm dapat menyimpan benih sebanyak 100 - 150 ekor untuk benih yang diikat. Lakukan penyiraman sebanyak 2 - 3 kali penyiraman dengan air berkadar garam 10 - 25 ppt, selama pengangkutan 5 - 6 jam.
Pengangkutan benih kepiting
5. Penebaran
Penebaran kepiting dilakukan pada pagi atau sore hari pada karamba. Benih kepiting yang ditebarberukuran berat 200 - 300 gram per ekor. Untuk ukuran karamba 1,5 - 2 x 1 x 1 meter kepadatan tebar nya kurang lebih 15 - 25 kg atau sebanyak 60 - 70 ekor.

Penebaran bibit kepiting
6. Pemeliharaan
Penempatan karamba dalam petak tambak disarankan diletakkan di dekat pintu masuk/keluar air. Posisi karamba sebaiknya menggantung berjarak 15 cm dari dasar perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang tidak termakan jatuh ke dasar perairan tidak mengendap di dalam karamba. Diusahakan seminggu 2 kali karamba dipindah dari posisi semula hal ini bertujuan agar terjadi sirkulasi / pergantian air. Kegiatan dalam pemeliharaan setelah penebaran dilakukan :
  • Pemberian pakan rucah lebih diutamakan dalam bentuk segar sebanyak 5 -10% dari berat badan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore/malam hari.
  • Penggantian air dilakukan bila terjadi penurunan kualitas air.
  • Sampling dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan dan kesehatan kepiting.
Dengan pengelolaan pakan yang cermat, cocok dan tepat jumlah maka dalam tempo 10 hari pertumbuhan kepiting bisa diketahui.

Ikan rucah sebagai salah satu pakan utama kepiting bakau
7. Pemanenan
Pemeliharaan / penggemukan kepiting di karamba dapat dilakukan selama 15 hari, tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan oleh jenis pakan yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen kepiting digunakan alat berupa seser baik untuk tujuan pemanenan total maupun selektif. Pelaksanaan panen harus dilakukan oleh tenaga terampil untuk menangkap dan kemudian mengikatnya. Selain itu tempat dan waktu penyimpanan sebelum didistribusikan kepada konsumen menentukan kesegaran dan laju dehidrasi karena kehilangan berat sekitar 3 - 4% dapat menyebabkan kematian.
Kepiting bakau yang siap jual
Semoga bermanfaat...