Showing posts with label Penanganan Hasil Perikanan. Show all posts
Showing posts with label Penanganan Hasil Perikanan. Show all posts

Sunday, March 13, 2016

Manfaat Refrigerasi Pada Industri Perikanan

Mesin-mesin pendingin dewasa ini semakin banyak dimanfaatkan seirama dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya taraf hidup. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan makanan. Karena pada pada suhu biasa (suhu kamar) makanan cepat menjadi busuk (karena pada temperatur biasa bakteri akan berkembang cepat). 
Penurunan Suhu Ikan
Menyadari akan besarnya peranan suhu dingin pada daya awet hasil perikanan inilah yang mendorong manusia mengaitkan hasil perikanan itu dengan usaha refrigerasi, yakni memanfaatkan teknologi refrigerasi guna mendinginkan suhu atau menurunkan suhu hasil tangkapan agar panjang daya awetnya. Kegiatan refrigerasi hasil tangkapan adalah usaha mendinginkan ikan agar awet guna memperoleh manfaat biologis (gizi) dan ekonomis yang setinggi-tingginya.

Dalam kehidupan sehari-hari, teknologi refrigerasi lebih dikenal dalam bentuk produknya yang berupa es, lemari dingin (refrigerator rumah tangga), kamar dingin (chillroom), gudang atau kamar beku (cold storage), pabrik es dan lain-lain. Di kota-kota besar produk refrigerasi yang umum dikenal adalah alat pendingin ruangan (AC). Selanjutnya efek refrigerasi dinikmati hampir seluruh umat manusia dalam berbagai jenis dan bentuk pangan yang didinginkan dan dibekukan, seperti minuman dingin, es lilin, es krim, sayuran dan buah-buahan dingin, ikan basah, udang beku, daging, dan ayam beku, dan lain-lain.

Memang demikianlah halnya, teknologi refrigerasi memiliki peranan khusus dalam produksi dan distribusi pangan manusia dan hewan. Teknologi ini tidak hanya diterapkan dalam pemanfaatan pasca-panen (sesudah panen) tetapi juga dalam produksi pangan pra-panen (dalam budidaya tanaman, ternak, ikan, dan lain-lain) jadi diterapkan dalam seluruh mata rantai mulai dari produksi sampai pada penanganan, pengolahan, dan distribusi serta konsumsi pangan.

Pada tahun 1974 G. Lorenzen, menyatakan bahwa produksi pangan di dunia saat itu diperkirakan 3.000 juta ton. Sekitar 45% dari produksi itu adalah kelompok pangan cepat busuk (perisable foods) yang memerlukan usaha pengawetan, yang menggunakan teknik refrigerasi. Padahal yang dapat diawetkan secara refrigerasi saat itu hanya sekitar 2-3 % saja. Sebagian besar tidak dapat diselamatkan, yang tersia-sia besar sekali jumlahnya, sering diperkirakan 20-30%. Akibat pangan yang bersifat mudah busuk tidak dapat mencapai wilayah konsumsi yang jauh, terpaksa harus segera dihabiskan, dibiarkan busuk di lapangan, atau tidak dapat dimanfaatkan sama sekali sumber dayanya.

Mengingat ikan tergolong pangan yang cepat membusuk sehingga pengawetan dengan menggunakan teknik refrigerasi diharapkan mampu mengawetkannya dengan kesegaran ikan yang paling dekat dengan kesegaran ikan yang baru saja ditangkap. Diharapkan juga dengan bantuan teknik refrigerasi itu perikanan modern dunia dapat meningkatkan produksinya beberapa puluh juta ton selama 30 tahun terakhir ini.

Dalam dunia perikanan secara umum dapat dikemukakan bahwa penerapan teknik refrigerasi dalam bentuk pendinginan dan khususnya pembekuan, memberi keuntungan sebagai berikut:
  1. Memperluas jangkauan penangkapan sehingga dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan yang berlokasi jauh dari laut dalam dan wilayah ekonomi ekslusif;
  2. Mengamankan hasil tangkapan pada periode tangkapan besar dan menyalurkannya pada periode paceklik, dengan demikian dapat mengatur suplai dan menstabilkan harga;
  3. Memperpanjang masa operasi pabrik pengolahan karena dapat menghimpun stok bahan baku pada waktu musim raya;
  4. Memperpanjang waktu penyimpanan dan memperluas jaringan distribusi;
  5. Memperluas jaringan pemasaran ke luar negeri sehingga memperbesar pemasukan devisa;
  6. Meningkatkan pendapatan nelayan dan petani produsen berhubung dapat memperkuat posisinya dalam proses penawaran dan permintaan.
       Suksesnya suatu usaha perikanan, selain penerapan teknik refrigerasi yang tepat, perlu pula diperhatikan usaha pembinaan mutu (quality control) sehubungan dengan usaha standarisasi, penerapan sanitasi dan hygiene dan peningkatan keahlian dan keterampilan dalam operasi dan pemeliharaan.

Semoga Bermanfaat...

Monday, February 29, 2016

Tips Mencegah Pembusukan Ikan

Kita telah mengetahui bahwa pembusukan ikan terutama disebabkan oleh enzym dan bakteri. Oleh karena itu untuk mencegah pembusukan, akan sangat efektif bila kedua penyebab utama itu disingkirkan dari ikan, dibunuh, dan dicegah kedatangan penyebab lain yang berasal dari luar. Pembusukan itu sendiri bagaimana pun tidak dapat dicegah atau dihindari. Sampai saat manusia baru berhasil untuk memperlambat atau menunda proses pembusukan itu.
Ikan Segar
Usaha Mencegah Pembusukan Ikan
Usaha terbaik yang dapat dilakukan untuk mempertahankaan mutu ikan terhadap pembusukan adalah sebagai berikut:
1. Mengurangi sebanyak mungkin jumlah enzim dan bakteri pada tubuh ikan.
Bakteri terdapat pada bagian kulit dan terutama sekali pada insang dan isi perutnya sedangkan enzim pada daging dan sebagian besar pada perutnya. Jika setelah ditangkap dibuang isi perutnya dan insangnya serta kemudian dicuci bersih, dihilangkan lendir-lendirnya maka berarti sebagian besar bakteri dan enzim telah dibuang.

2. Membunuh sisa-sisa bakteri dan enzim atau sekurang-kurangnya menghambat kegiatannya.
Bakteri yang tertinggal pada ikan dapat diperangi dengan berbagai cara yang pada dasarnya dapat dibagi dalam 5 kategori:
    • Penggunaan suhu rendah
      Penggunaan es sebagai salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan
    • Penggunaan suhu tinggi
      Pemindangan merupakan salah satu upaya pencegahan pembusukan ikan dengan suhu tinggi 
    • Pengeringan (dehidrasi) 
      Pengeringan ikan
    • Penggunaan zat-zat anti septic
    • Penyinaran atau irradiasi

    Untuk dapat hidup dengan baik, bakteri memerlukan suhu tertentu, tergantung dari jenisnya. Ada tiga macam bakteri berdasarkan pertahanannya terhadap suhu seperti pada tabel berikut :
    Kisaran suhu bagi kehidupan bakteri
    Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan bakteri akan mati atau sekurang-kurangnya akan terhenti kegiatannya bila suhu ikan diturunkan sampai dibawah 0 0 C atau bila dinaikkan sampai diatas 100 derajat celcius. Penggunaan suhu rendah kita lakukan dengan menggunakan es atau dengan cara pendinginan   lainnya. Sedangkan suhu tinggi dipakai misalnya dalam pengalengan atau pemindangan. Ikan asin, ikan asap, ikaan asam, dan sebagainya akan lebih awet jika disimpan pada suhu rendah.

    Air merupakan kebutuhan yang pokok bagi pertumbuhan bakteri. 
    Bakteri selalu menyerap makanannya dalam bentuk larutan, dan untuk itu diperlukan air. Jadi dalam suasana kering, bakteri tidak akan dapat makan sehingga akan mati. Atas dasar inilah maka ikan dapat diawetkan dengan mengurangi kadar airnya, yaitu dengan cara:

    • Pengeringan dengan udara (Drying)
    • Osmose (penggunaan garam)
    • Pemasakan (perebusan, pengukusan, pengetiman)
    • Pengeringan dengan pembekuan pada ruang hampa ( vacuum freeze drying).

    Beberapa zat kimia seperti asam cuka, klor (kaporit), Aureonmycin, asam benzoat, natrium benzoat, dll, sangat efektif dipakai untuk membunuh kuman bakteri dan menghentikan enzym. Zat-zat tersebut dapat dipakai untuk mengawetkan ikan dalam batas-batas tertentu.

    3. Melindungi ikan terhadap kontaminasi bakteri dari luar.
    Pengawetan tidak akan banyak berarti jika ikan yang telah diawetkan tidak dilindungi dari penyebab kerusakan baru yang datang dari luar ikan. Kerusakan ini bermacam-macam pada ikan olahan dan hasil olahannya, antara lain:

    • Pembusukan akibat pencemaran bakteri dari air, pembungkus, dari ikan lain, dan sebagainnya.
    • Oksidasi lemak yang menimbulkan bau tengik, 
    • Kerusakan-kerusakan fisik karena serangga, jamur, kecerobohan dalam penanganan, dan sebagainya.

    Untuk melindungi ikan terhadap kerusakan-kerusakan ini kita harus menyelenggarakan sanitasi dan hygiene yang baik dalam proses penanganan, melakukan pembungkusan / pengepakan yang baik, serta usaha-usaha proteksi yang lain.

    Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Sunday, February 28, 2016

    Pendinginan Ikan Dengan Air Yang Didinginkan

    Pendinginan ikan dengan air dingin adalah memanfaatkan air sebagai medium pendingin guna menurunkan suhu ikan mencapai 0º sampai sampai 1º dengan cara memasukan ikan kedalam air yang telah dinginkan.
    Air dingin sebagai salah satu media pendinginan ikan

    Berdasarkan jenis air, pendinginan dapat dilakukan dengan cara :

    1. Air tawar didinginkan dengan es
    2. Air tawar direfrigerasi
    3. Air laut direfrigrasi dengan  es
    4. Air garam didinginkan dengan es
    5. Air garam direfrigerasi

    Kelebihan pendinginan dengan air dingin :

    1. Daya awet lebih panjang
    2. Ikan kurang mengalami tekanan
    3. Laju pendingin lebih cepat
    4. Penanganan cepat dan mudah
    5. Daging ikan menjadi lebih padat bila menggunakan larutan garam dingin

    Kekurangannya :

    1. Makin menghanyutkan protein
    2. Terjadi perubahan warna
    3. Penyerapan air oleh ikan yang berkadar lemak rendah
    4. Ikan menyerap garam jika menggunakan air garam / air laut.


    Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Thursday, February 25, 2016

    Pendinginan Ikan Dengan Udara Dingin

    Prinsip yang dianut sama seperti pada pendingin dengan menggunakan es. Udara dingin dibuat dengan mesin pendingin dan disemprotkan ke dalam ruangan dimana ikan disimpan.
    salah satu pendingin utuk produk perikanan dan pertanian
    Udara dingin tidak cepat mendinginkan ikan bahkan cenderung merusak ikan yakni ikan mengalami kekeringan (dehidrasi) yang berakibat ikan menjadi kering / berkerut, warnanya kusam dan terjadi penyusutan berat. Untuk itu pendinginan dengan udara dingin ini diperlukan es untuk mendinginkan ikan dengan cara dicampur atau permukaan ikan ditutup dengan es.

    Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Wednesday, February 24, 2016

    Pendinginan Ikan Dengan Es

    Es merupakan medium pendingin yang paling baik. Dengan memberikan es yang cukup pada ikan, akan dapat menurunkan suhu ikan sampai sekitar 0º C. Pada suhu tersebut kegiatan bakteri dan enzim dapat dihambat.
    Pendinginan ikan dengan es
    Jenis es yang digunakan :
    1. Es balok
      Es Balok
    2. Es tabung (tube ice)

      Es Tabung
    3. Es curai (flake ice)
      Es Curai

    Beberapa kelebihan pendinginan dengan es :
    1. Es mempunyai daya mendinginkan yang besar
    2. Es tidak merusak ikan dan tidak membahayakan bagi yang memakannya
    3. Harganya murah dan mudah dibawa
    4. Sentuhan dengan es senantiasa dingin, basah dan cemerlang
    5. Es adalah thermostatnya sendiri artinya es dapat memelihara dan mengatur suhu ikan sekitar suhu es mencair 0º C.
    6. Air lelehan es membasahi permukaan ikan sambil menghanyutkan lendir, sisa darah dan kotoran lainnya.

    Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Pengawetan Ikan Dengan Suhu Rendah : Pendinginan

    Yang menjadi dasar dari pengawetan dengan menggunakan suhu rendah adalah bahwa pada suhu tersebut mikro organisme tidak dapat tumbuh atau tidak dapat berkembang (bacteristatic) dan reaksi enzimatis serta reaksi kimiawi yang menyebabkan kerusakan atau pembusukan dapat dihambat.

    Meskipun pada suhu rendah dapat menghambat proses metabolisme mikro organisme, namun hal ini tidak berarti bahwa pada suhu rendah dapat mematikan seluruh mikro organisme. Jadi tujuan dari pengawetan dengan suhu rendah adalah dapat memperpanjang daya awet dengan memperhatikan faktor-faktor suhu yang digunakan, kualitas bahan baku, perlakuan pendahuluan, dari cara dan metode penggunaan suhu rendah yang diterapkan
    Pengawetan ikan melalui pendinginan

    Pendinginan dapat dipergunakan sebagai metode pengawetan ikan. Ikan dapat diawet selama 12 – 13 hari jika didinginkan dengan cara dan kondisi yang baik, tetapi pada umumnya sekitar 7 – 12 hari. Daya awet yang pendek ini mengakibatkan pendinginan hanya dipergunakan untuk pengangkutan jarak pendek dan kapal penangkap yang beroperasi tidak terlalu jauh.
    Dengan pendinginan bakteri tidak dapat dibunuh. Mereka masih hidup tetapi sebagian tidak dapat bekerja aktif. Jadi pendinginan bertujuan untuk menghambat aktifitas bakteri sehingga dapat mengawetkan sifat-sifat asli ikan (rasa, bau, aroma) dari setiap jenis ikan.

    Pada prinsipnya pendinginan ikan adalah menurunkan suhu pusat (thermal) ikan menjadi 0º C dan mempertahankan pada suhu tersebut selama penyimpanan dan distribusi. Pendinginan ikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
    1. Pendinginan dengan es ; lihat
    2. Pendinginan dengan udara dingin ; lihat
    3. Pendinginan dengan air yang didinginkan ; lihat
    Sumber : Modul Teknologi Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Tuesday, February 23, 2016

    Ciri - Ciri Ikan Segar dan Ikan Busuk

    Ikan merupakan salah satu makanan yang cepat rusak, karena kandungan protein yang sangat tinggi menyebabkan bau busuk yang menyengat. Untuk keperluan konsumsi disarankan untuk memilih ikan benar-benar segar, di samping rasanya akan lebih baik, kandungan proteinnya pun lebih bagus. Banyak orang yang belum bisa membeakan antara ikan yang segar dan ikan busuk.

    Berikut perbedaan antara ikan segar dan ikan busuk:
    1. Mata

    2. Insang
    3. Warna
    4. Bau

    5. Daging

    6. Sisik

    7. Dinding Perut

    8. Keadaan Tubuh
    Sumber : Modul Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Monday, February 22, 2016

    Faktor Yang Mempengaruhi Pembusukan Ikan

    Dalam setiap operasi penangkapan, ikan yang tertangkap harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya, karena perlakuan ini merupakan langkah pertama yang sangat menentukan mutu ikan dalam proses berikutnya.
    Proses penanganan ikan setelah ditangkap atau panen mempengaruhi kecepatan proses pembusukan ikan 

    Ikan yang ditangkap akan segera membusuk, kecepatan pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
    1. Cara Penangkapan : Ikan yang tertangkap dengan playing, pole & line, trawl akan lebih baik keadaanya bila dibandingkan dengan yang ditangkap dengan gill net, long line, dan sebagainya.
    2. Reaksi ikan menghadapi kematian : Ikan – ikan yang keras menghabiskan banyak tenaganya dalam menghadapi kematiannya, lebih cepat busuk daripada ikan yang mati dengan tenang  atau cepat.
    3. Jenis dan ukuran ikan : a) Kecepatan pembusukan berbeda pada setiap jenis ikan, karena perbedaan komposisi kimianya. b) Ikan yang berukuran kecil cepat membusuk dari pada ikan yang berukuran besar.
    4. Keadaan fisik sebelum ditangkap : a) Ikan yang sangat kenyang akan makanan saat ditangkap, perut dan dinding perutnya segera diurai oleh enzym isi perut dan akan mengakibatkan perubahan warna. b) Ikan yang kondisi physiknya lemah, misalnya ikan yang sakit, lapar atau habis bertelur, akanlebih membusuk.
    5. Keadaan Cuaca : Udara yang panas, suhu air yang tinggi, laut yang banyak gelombang, akan mempercepat pembusukan.
    6. Cara penanganan dan penyimpanan : Jika ikan dalam keadaan rigor diperlakukan dengan kasar, misalnya ditumpuk terlalu banyak, terinjak, terlempar, dan sebagainya, proses pembusukannya akan berlangsung lebih cepat. Pembusukan dapat dicegah atau diperlambat jika ikan disiangi dan disimpan pada suhu yang cukup rendah.

    Penurunan Mutu Ikan Oleh Pengaruh Fisik
    Penurunan mutu ikan juga dapat terjadi oleh pengaruh fisik. Misal kerusakan oleh alat tangkap waktu ikan berada di dek, di atas kapal dan selama ikan disimpan di palka. Kerusakan yang dialami ikan secara fisik ini disebabkan karena penanganan yang kurang baik. Sehingga menyebabkan luka-luka pada badan ikan dan ikan menjadi lembek. Hal-hal ini dapat disebabkan karena :
    • Terlalu lamanya ikan  berada dalam  jaring, misal dalam jaring trawl, penarikan trawl terlalu lama. Kondisi ini dapat menyebabkan kepala atau ekor menjadi luka atau patah.
    • Pemakaian alat, semisal ganco atau sekop terlalu kasar, sehingga melukai badan ikan dan ikan dapat mengalami pendarahan.
    • Penyimpanan dalam palka terlalu lama.
    • Penanganan yang ceroboh sewaktu penyiangan, mengambil ikan dari jaring, sewaktu memasukkan ikan dalam palka, dan membongkar ikan dari palka.
    • Daging ikan juga akan lebih cepat menjadi lembek, bila kena sinar matahari.
    Sumber : Materi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan

    Semoga Bermanfaat...

    Sunday, February 21, 2016

    Proses Pembusukan Ikan

    Ikan adalah suatu bahan makanan yang sangat mudah membusuk (perishable food) sesaat setelah tertangkap, ikan akan segera mati, dan akan mengalami perubahan-perubahan/kerusakan-kerusakan yang mengakibatkan pembusukan.
    Ikan Busuk
    Istilah pembusukan meliputi 2 (dua) macam perubahan yang terjadi pada ikan, yaitu:
    1. Hilangnya secara perlahan-lahan ciri – ciri / karakter ikan segar  yang  diinginkan
    2. Timbulnya bau-bau yang tidak diinginkan dan rupa menjadi jelek / tidak menarik 

    Secara umum kerusakan / kerusakan ikan dapat digolongkan menjadi:
    1. Kerusakan – kerusakan biologis; disebabkan oleh bakteri, jamur, ragi dan serangga.
    2. Kerusakan – kerusakan Enzymatis; disebabkan oleh adanya reaksi kimia (oksigen), misalnya ketengikan (rancidity) yang diakibatkan oleh oksidasi lemak.
    3. Kerusakan – kerusakan physis; disebabkan oleh kecerobohan dalam handling / processing, misalnya luka-luka memar, patah, kering, dan sebagainya.

    Diantara kerusakan-kerusakan tersebut, penyebab utama pembusukan ikan, adalah enzym dan bakteri.
    Enzym : Suatu substansi organic yang terdapat di dalam tubuh ikan yaitu didalam daging ikan dan isi perut, terutama pada alat-alat pencernaan. Pada waktu ikan masih hidup enzym berfungsi sebagai katalis-biologi yang membantu proses pencernaan makanan. Setelah ikan mati, enzym tersebut akan berbuat sebaliknya yaitu daging ikan yang dicerna.

    Bakteri : Merupakan jasad renik (mikroba) yang hanya dapat dilihat dengan mokroskope. Pada ikan hidup, bakteri terdapat pada bagian kulit (lendir), insang dan pada makanan didalam perutnya. Selama ikan masih hidup, bakteri tidak berpengaruh buruk terhadap ikaan. Setelah ikan mati, maka bakteri segera meningkatkan aktivitasnya untuk perkembangan dan menyerang tubuh ikan. 

    Tahap - Tahap Pembusukan Ikan
    Hyperaemia : Terlepasnya lendir dari kelenjar-kelenjarnya di dalam kulit, membentuk lapisan bening yang tebal disekeliling tubuh ikan.

    Rigor mortis : Mengejangnya tubuh ikan setelah mati (rigor = kaku; mortis = mati; rigor mortis = keadaan kaku setelah mati). Hal ini disebabkan karena otot-otot yang berkontraksi akibat reaksi-reaksi kimia yang dipengaruhi oleh enzym.

    Autolysis : Melemasnya kembali tubuh ikan setelah mengalami  rigor. Daging menjadi lembek karena kegiatan enzym meningkat. Penguraian daging ikan oleh enzym menghasilkan bahan yang merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Bakteri sudah mulai merusak ikan dengan mengurangi protein daging.

    Bacterial Decomposition : Pada tahapan ini bakteri telah terdapat dalam jumlah yang sangat banyak akibat perkembanganbiakan yang sangat banyak terjadi pada fase-fase sebelumnya. Aksi bakteri itu dimulai pada   saat   haqmpir bersamaan dengan tahap antolysis, kemudian berjalan sejajar. Bakteri merusak ikan lebih parah dari kerusakan   yang diakibatkan  oleh  enzym.

    Mengapa ikan mudah diserang oleh bakteri? Alasannya adalah sebagai berikut :
    1. Ikan segar mengandung lebih banyak cairan dan sedikit lemak, jika dibanding dengan jenis daging lainnya. Akibatnya bakteri lebih mudah berkembang biak.
    2. Struktur daging ikan tidak begitu sempurna susunannya, dibandingkan jenis daging lainnya. Kondisi ini memudahkan terjadinya penguraian bakteri.
    3. Sesudah terjadi peristiwa rigor, ikan segar mudah bersifat alkaline/basa. Kondisi Ini memberikan lingkungan yang sesuai bagi bakteri untuk berkembang biak.
    Semoga Bermanfaat...

    sumber : Materi Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan

    Thursday, October 22, 2015

    Cara Memproduksi Fillet Ikan (1)

    Potensi ekspor fillet ikan ke beberapa negara, terutama ke Amerika dan Eropa diperkirakan akan berkembang terus sesuai dengan permintaan di negara-negara tersebut yang makin meningkat. Sementara itu potensi bahan baku di Indonesia cukup banyak untuk dimanfaatkan.

    Produk ini lebih rentan terhadap kontaminasi dan penurunan mutu dari pada produk ikan utuh. Konsekuensinya, penanganan dan pengolahan membutuhkan ekstra perhatian yang melebihi komoditas olahan lain. Penerapan rantai dingin serta sanitasi dan higiene yang ketat merupakan persyaratan utama agar memperoleh produk yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.

    BAHAN DAN ALAT
    Bahan Baku
    Ikan air laut maupun tawar yang berukuran sedang dengan bentuk bulat atau pipih, misalnya : lele, kakap, nila, ikan sebelah, pari, dan lain-lain.
    Jenis ikan yang dapat digunakan untuk membuat fillet ikan

    Jenis ikan yang digunakan sebagai bahan mentah untuk pengolahan fillet ikan bermacam-macam, baik ikan laut atau ikan air tawar yang umumnya berukuran sedang, dengan bentuk ikan yang badannya bulat maupun yang pipih.

    Bahan mentah harus betul-betul segar, tidak hanya untuk memperoleh produk yang bermutu tinggi tetapi juga untuk kemudahan dalam operasi pem-fillet-an. Ikan disiangi sesegera mungkin setelah tertangkap, karena bila sekali darahnya mulai beku maka daging akan mengalami diskolorasi sehingga mustahil mendapatkan fillet putih dan  menarik.

    Bahan mentah disimpan dengan kondisi yang baik untuk mempertahankan mutu sampai saatnya dilakukan pem-fillet-an. Sortasi bahan mentah perlu dilakukan untuk memisahkan ikan yang tidak layak diolah, baik ikan yang kesegarannya telah menurun maupun ikan yang cacat atau terkontaminasi oleh bahan-bahan yang mempengaruhi penerimaan produk.

    Peralatan
    1. Pisau. Pisau yang digunakan untuk penyayatan fillet umumnya berbentuk panjang dan ramping. Kadang-kadang untuk pengulitan fillet lebih disukai pisau fillet yang sudah usang sehingga bentuknya lebih tipis dan ramping. Jenis-jenis pisau lainnya juga harus tersedia sesuai dengan jenis pekerjaan seperti membuang sirip, memotong tulang belakang, dan lain-lain.
      Pisau fillet
    2. Pengasah pisau. Pisau untuk memfillet ikan harus tajam agar sayatan daging ikan permukaannya halus. Pisau harus diasah dalam dua tahap. Pengasahan pertama dengan gerinda atau batu asah guna memperoleh bentuk sudut dan ujung yang dikehendaki lalu pengasahan kedua dengan pengasah batang baja bulat yang bergerigi halus. Pengasah baja sangat sering digunakan pada waktu kerja.
      Pengasah pisau
    3. Talenan. Terbuat dari papan kayu atau lebih baik lagi papan komposit (sejenis plastik) karena mudah dibersihkan dari pada papan kayu.
      Talenan
    4. Meja. Meja pem-fillet-an harus dibuat dengan konstruksi dari aluminium atau baja tahan karat pada permukaannya dan mudah dibersihkan. Bagian tengah dari meja harus lebih rendah dari permukaan meja kerja dan harus mempunyai lubang penirisan.
      Meja Stainless Steel
    5. Pakaian kerja. Pakaian pelindung selama kerja dalam pemfilletan maupun pengepakan harus dikenakan untuk mengurangi kontaminasi dan menjaga kebersihan seperti apron yang berlapis karet, topi dan sepatu boot.
    Seragam pada saat memfillet ikan
    Lanjutan...

    Sunday, September 21, 2014

    Standar Nasional Indonesia (SNI) Perikanan Budidaya

    Standar Nasional Indonesia (disingkat SNI) adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia. SNI dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh BSN.

    Agar SNI memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka SNI dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:  

    1. Openess (keterbukaan), Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan SNI;
    2. Transparency (transparansi), Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan SNI mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya . Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informsi yang berkaitan dengan pengembangan SNI;
    3. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak), Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;    
    4. Effectiveness and relevance, Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
    5. Coherence, Koheren dengan pengembangan standar internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional; dan 
    6. Development dimension (berdimensi pembangunan), Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional. (sumber Strategi BSN 2006-2009)

    Berikut Standar Nasional Indonesia pada bidang perikanan :
    1. SNI Ikan Bandeng
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6148 - 1999
    1999
    Induk Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal)
    kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6149 - 1999
    1999
    Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) kelas benih sebar

    3.
    01- 6150 - 1999
    1999
    Produksi Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal)
    kelas benih sebar


    2. SNI Rumput Laut Eucheuma Cottonii
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    7672:2011
    2011
    Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii)

    2.
    7673.1:2011
    2011
    Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 1 Metode Lepas Dasar

    3.
    7673.2:2011
    2011
    Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 2 Metode Longline

    4.
    7673.3:2011
    2011
    Produksi Bibit Rumput Laut Kotoni (Eucheuma cottonii) - Bagian 3 Metode Rakit Bambu Apung


    3. SNI Ikan Gurame
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6485.1 - 2000
    2000
    Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6485.2 - 2000
    2000
    Benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar

    3.
    01- 6485.3 - 2000
    2000
    Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar


    4. SNI Ikan Kakap Putih
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6145 - 1999
    1999
    Induk Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6146 - 1999
    1999
    Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
    kelas benih sebar

    3.
    01- 6147 - 1999
    1999
    Produksi Benih Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)
    kelas benih sebar


    5. SNI Ikan Kerapu Bebek
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    6487.1.2011
    2011
    Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 1 : Induk

    2.
    6487.2.2011
    2011
    Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 2 : Benih

    3.
    6487.3.2011
    2011
    Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis Valienciences) – Bagian 3 : Produksi Benih


    6. SNI Ikan Kerapu Macan
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    6488.1:2011
    2011
    Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 1 : Induk

    2.
    6488.2:2011
    2011
    Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 2 : Benih

    3.
    6488.3:2011
    2011
    Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fucoguttatus Forskal) – Bagian 3 : Produksi Benih


    7. SNI Katak Lembu
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    02- 6730.1 - 2002
    2002
    Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

    2.
    02- 6730.2 - 2002
    2002
    Induk Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent stock)

    3.
    02- 6730.3 - 2002
    2002
    Produksi Benih Kodok Lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar

    4.
    02- 6730.4 - 2002
    2002
    Produksi Induk Kodok Lembu (bull frog) (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)


    8. SNI Ikan Lele Dumbo
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6484.1 - 2000
    2000
    Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6484.2 - 2000
    2000
    Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar

    3.
    01- 6484.3 - 2000
    2000
    Produksi Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)

    4.
    01- 6484.4 - 2000
    2000
    Produksi Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar


    9. SNI Ikan Mas Majalaya
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6130 - 1999
    1999
    Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk Pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6131 - 1999
    1999
    Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk Pokok (Parent Stock)

    3.
    01- 6132 - 1999
    1999
    Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

    4.
    01- 6133 - 1999
    1999
    Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar


    10. SNI Ikan Mas Si Nyoya
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6134 - 1999
    1999
    Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6135 - 1999
    1999
    Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)

    3.
    01- 6136 - 1999
    1999
    Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus)
    strain Sinyonya kelas benih sebar

    4.
    01- 6137 - 1999
    1999
    Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus)
    strain Sinyonya kelas benih sebar


    11. SNI Ikan Nila Hitam
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    6138:2009
    2009
    Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

    2.
    6139:2009
    2009
    Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok

    3.
    6140:2009
    2009
    Benih Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

    4.
    6141:2009
    2009
    Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar


    12. SNI Ikan Patin Jambal
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01-7256-2006
    2006
    Produksi Benih Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) Kelas Benih sebar

    2.
    7471.1:2009
    2009
    Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 1: Kelas Induk Pokok (Parent stock)

    3.
    7471.2:2009
    2009
    Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 2: Produksi Induk Kelas Induk Pokok (Parent stock)

    4.
    7471.3:2009
    2009
    Ikan Patin Jambal (Pangasius djambal) – Bagian 3 : Benih Ikan Patin Kelas Benih Sebar


    13. SNI Ikan Patin Siam
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6483.1 - 2000
    2000
    Induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
    kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6483.2 - 2000
    2000
    Benih ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
    kelas benih sebar

    3.
    01- 6483.3 - 2000
    2000
    Produksi induk ikan patin siam (Pangasius hyphthalmus)
    kelas induk pokok (Parent Stock)


    14. SNI Udang Galah
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01- 6486.1 - 2000
    2000
    Induk udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man)
    kelas induk pokok (Parent Stock)

    2.
    01- 6486.2 - 2000
    2000
    Benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar

    3.
    01- 6486.3 - 2000
    2000
    Produksi benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar

    4.
    02- 6486.2 - 2002
    2002
    Produksi Induk Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)

    15. SNI Udang Rostris
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01-7257-2006
    2006
    Induk udang rostris (Litopenaeus stylirostris) kelas induk pokok)


    16. SNI Udang Vaname
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01-7252-2006
    2006
    Benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

    2.
    01-7253-2006
    2006
    Induk udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas induk pokok
    3.
    7311:2009
    2009
    Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

    17. SNI Udang Windu
    No
    Nomor SNI
    Tahun
    Judul SNI
    1.
    01-6142-2006
    2006
    Induk udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798

    2.
    01-6143-2006
    2006
    Benih udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 kelas benih sebar
    3.
    01-6144-2006
    2006
    Produksi benih udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 kelas benih sebar
    4.
    01-7258-2006
    2006
    Penanganan induk udang windu (Penaeus monodon) Fabricius, 1798 di penampungan

    Semoga Bermanfaat...