Showing posts with label Budidaya Perikanan. Show all posts
Showing posts with label Budidaya Perikanan. Show all posts

Tuesday, March 8, 2016

Azolla Microphylla Pakan Ikan Yang Murah dan Mudah

Bentuk Azolla adalah sudut segitiga polygonal dan mengambang di permukaan air secara individu atau bergerombol. Diameter tanaman berkisar antara 0,3 – 1 inchi (1-2,5 cm) bagi spesies kecil seperti Azolla pinnata, sampai 6 inchi (15 cm) atau lebih bagi Azolla nilotica, Azolla filiculoides yang di kembangkan di Hawai awal abad ke-20. Lingkungan ideal bagi Azolla adalah kolam-kolam berisi air segar atau daerah berair/lembab berlumpur.
Azolla microphylla

KANDUNGAN UNSUR HARA AZOLLA



















Sebagai pakan ikan, Azolla menyimpan kandungan nutrisi yang komplit. Selain kaya protein, Azolla juga mengandung Vitamin A, B12, Asam Amino Esensial, Beta Carotene. Lemak, Karbohidrat dan mineral. Kandungan protein Azolla mencapai 25-35%, Mineral 10-15%, Lemak 7-7.5% dan Karbohidrat 6-6.5%.

Jika diberikan sebagai pakan ikan, Azolla dapat diberikan langsung dalam keadaan segar. Alternatif lain, Azolla bisa diolah terlebih dahulu menjadi tepung Azolla. Tepung Azolla ini kemudian dijadikan campuran untuk membuat pellet ikan

Bagi pembudidaya ikan tentunya penggunaan Azolla sebagai pakan ikan akan menekan biaya produksi. Namun sayang, belum banyak pembudidaya yang mengembangkan Azolla sebagai pakan ikan.

CARA MEMPERBANYAK AZOLLA
Buatlah stok Azolla dengan bak plastik atau di kolam yang tidak ada ikannya. Semprot stok setiap 1 bulan sekali dengan pupuk P (satu sendok makan SP-36 per liter air). Sebaiknya Sp-36 digerus halus agar mudah larut dalam air.

Pembiakan Azolla di kolam bisa dilakukan dengan mempersiapkan lahan tanam persis seperti pengolahan tanah untuk bertanam padi. Bedanya ketebalan tanah kolam dari dasar setidaknya antara 5-10 cm, lalu diberi pupuk dasar N,P dan K, di genangi dengan air dan jangan dibiarkan kering. Bila bibit azolla didapat dari lapang jangan di tanam di kolam besar yang terkena sinar matahari langsung. Sebaiknya diadaptasikan dulu di kolam kecil untuk beradaptasikan dengan lingkungan yang baru. Lalu kemudian ditransplantasikan ke kolam induk.

Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Sunday, March 6, 2016

Mengenal Azolla Pakan Alami Mudah dan Murah

Azolla merupakan satu-satunya genus dari paku air mengapung suku Azollaceae. Terdapat tujuh spesies yang termasuk dalam genus ini. Suku Azollaceae sekarang dianjurkan untuk digabungkan ke dalam suku Salviniaceae.

Azolla dikenal mampu bersimbiosis dengan bakteri biru-hijau Anabaena azollae dan mengikat nitrogen langsung dari udara. Potensi ini membuat Azolla digunakan sebagai pupuk hijau baik di lahan sawah maupun lahan kering. Pada kondisi optimal Azolla akan tumbuh baik dengan laju pertumbuhan 35% tiap hari Nilai nutrisi Azolla mengandung kadar protein tinggi antara 24-30%. Kandungan asam amino essensialnya, terutama lisin 0,42% lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrat jagung, dedak, dan beras pecah (Arifin, 1996) dalam Akrimin 2002.

Tanaman Azolla Sp. memang sudah tidak diragukan lagi konstribusinya dalam memengaruhi peningkatan tanaman padi. Hal ini telah dibuktikan dibeberpa tempat dan beberapa negara. Konstribusi terbesar azolla adalah dengan menjaga hasil panen tetap tinggi. Meskipun penggunaannya sebagai pupuk hijau pada tanaman padi masih dilakukan di China dan Vietnam, dengan adanya peningkatan biaya tenaga kerja, membuatnya kurang diminati.

Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan pupuk hijau, penggunaan azolla ini kini lebih banyak dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.

SPECIES AZOLLA
  1. Azolla japonica Franch. & Sav. dari Jepang

  2. Azolla filiculoides Lam.

  3. Azolla pinnata R. Br. dari Asia Tenggara, juga dari Afrika

  4. Azolla nilotica Dcne. ex Mett.
  5. Azolla caroliniana Willd., dari Amerika Utara

  6. Azolla mexicana Presl., dari Meksiko

  7. Azolla microphylla Kaulf.


Sumber : Materi Pelatihan Pakan Alternatif

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, August 4, 2015

Teknik Budidaya Cacing Sutera

Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada kolam tanah, kolam plastik maupun di rak nampan plastik bertingkat. Semua wadah mempunyai keunggulannya masing - masing. Namun yang paling mudah dan menghemat ruang adalah budidaya cacing sutera pada rak nampan plastik bertingkat.
Cacing Sutera
Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi. Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : 
  1. Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada    nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.
  2. Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.
  3. Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya. Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 

  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh. 
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada 
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra

Rak nampan plastik bertingkat
Perkembangbiakan Cacing Sutera
Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra ( Tubifek sp ) adalah termasuk organism hermaprodit. Pada satu individu organism ini terdapat dua alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matengtelur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto ( 1986 ), telur cacing sutra terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1,5-2,5cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen.Setelah beberapa hari embrio cacing sutra akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi cacing sutra mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari

Syarat Hidup Cacing Sutera
Cacing sutra memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagianorganik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari .

Cacing sutera yang dikenal sebagai cacing rambut ini dapat hidup pada subtract lumpur dengan kedalaman antara 0 – 4 cm. pada prinsipnya Sama dengan hewan air lainnya, namun dalam kehidupannya cacing sutera ini senang dengan air, dan air memiliki peran  fungsi yang sangat penting untuk hidup tumbuh berkembang dengan baik diperlukan kwalitas air yang sesuai yaitu:
  • Pada pH : 5,5 – 8.0
  • Suhu yang baik antara 25 – 28 derajat celcius
  • DO ( oksigen terlarut ) : 2,5 – 28 ppm
  • Untuk kebutuhan debit air secukupnya dan tidak terlalu besar mengingat cacing ini sangat kecil
Cacing sutra tergolong hewan hermaprodit yang berkembangbiak melalui telur dengan pembuahan secara eksternal. telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah jadi dua sebelum saat menetas.

Makanan Cacing Sutera
Semua bahan organik yang dilemebekkan alangkah bagusnya jika difermentasi, jika difermentasi akan meningkatkan kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh cacing sutra. Di alam fermentasi itu terjadi secara alami, sehingga menumbuhkan tumbuhan ganggang yang bervilamen dan pakan alami seperti fittoplankton, yooplankton dan Hewan kecil lainnya . Itulah sebagian makanan cacing sutra dialam. Untuk pakan budidaya cacing sutra yang paling efisien menggunakan ampas tahu yang di fermentasi, karena ampas tahu sudah steril dan lembek. Ampas tahu bisa ditambahkan lagi dengan buah-buahan, tepung ikan, dan bahan yang mudah didapat.

Pembuatan Media Hidup Cacing Sutera
  1. Ambil Lumpur Kolam yg mengandung pasir yang Sudah Disaring
  2. Siapkan Kotoran Ayam  dan ampas tahu yg sudah difermentasi, bahan makanan tsb dicampur dengan perbandingan kohe 1 ampas tahu 10.
  3. Pencampuran makanan tadi dicampur lagi dg Lumpur media. Dg perbandingan makanan 1 lumpur halus 7. kemudian diamkan selama minimal 1 hari.
  4. Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul, yg sudah difermentasi.
Panen
Untuk mencapai masa panen, budidaya cacing sutra sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika cara beternak yang diterapkan sudah benar, maka cacing sutra sudah dapat dipanen setelah 8 sampai 10 hari sejak penebaran bibit. Setelah itu, hasil panen sudah dapat dijual di tempat-tempat penjualan pakan ikan atau di toko ikan.

Panen cacing sutera perdana sekitar 2 bulanan kemudian dapat dilakukan 7 – 10 hari sekali. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.

Konsep panen cacing sutera ialah mengurangi koloni, yaitu jika bagian atas dipanen maka bagian bawah cacing akan tumbuh. Dalam satu wadah/nampan bisa menghasilkan 100-150 ml cacing sutera.Panen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Pemanenan cacing sutra dilakukan dg mengambil ca-sut yg ada dipermukaan bersama lumpurnya.Setelah terkumpul, hasil panen casut dicuci dg jaring khusus sampai lumpur halus keluar. Kemudian tiriskan sebentar.
Letakkan cacing sutrayg masih bercampur lumpur kasar kedlm wadah dg ketebalan 3-4 cm.


Semoga Bermanfaat...

Friday, July 10, 2015

Mengenal Cacing Sutera dan Peluang Usahanya

Jika diperhatikan, sebenarnya ada banyak jenis budidaya yang memiliki nilai ekonomis. Salah satu jenis budidaya yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah budidaya cacing sutra. Tampaknya jenis budidaya ini memang aneh. Bahkan banyak yang menganggap bahwa cacing yang satu ini tidak terlalu menguntungkan. Namun sebenarnya cacing ini sangat bermanfaat terutama sebagai pakan beberapa jenis  larva ikan. Karena itulah tidak mengherankan jika ada banyak orang yang mencari-cari cacing sutra.
Cacing Sutera
Untuk membudidayakan cacing sutra, tentunya calon pembudidaya juga harus mengetahui cara ternak cacing sutra dengan benar. Sebenarnya cara memelihara cacing sutra tidaklah sulit. Yang diperlukan hanya tempat yang cukup untuk menempatkan cacing sutra dan bahan organik yang biasa digunakan oleh cacing sutra. Bahan organik yang biasa digunakan untuk membudidayakan cacing rambut adalah campuran antara kotoran ayam, dedak dan lumpur. Menemukan bahan-bahan organik tersebut juga sangat mudah.

Mengenal Cacing Sutera
Cacing sutra (Tubifex sp), menurut Gusrina (2008) memiliki klasifikasi sebagai berikut :
  • Filum : Annelida
  • Kelas : Oligochaeta
  • Ordo : Haplotaxida
  • Family : Tubifisidae
  • Genus : Tubifex
  • Spesies         : Tubifex sp.

Gerombolan cacing sutera
Cacing sutra  meruipakan organisme air tawar yang  memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan si Rambut Emas Merah. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagian organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.


Sifat Cacing Sutera
  • Menyukai kegelapan dan sensitif terhadap sinar
  • Mempunyai dua kelamin, tetapi tidak bisa membuahi diri sendiri
  • Kanibal 
  • Apabila stress atau tidak nyaman, cacing sutra akan menggerombol
Rak - Rak budidaya cacing sutera
Mengapa Cacing Sutera Perlu Dibudidayakan?
  • Cacing sutra merupakan suatu kebutuhan pokok bagi larva ikan, semua pemijah ikan pada umumnya sudah tahu kalau pakan alami larva ikan adalah cacing sutra, sangat bagus untuk pengembangan larva ikan, sehingga ikan sehat dan aman, karena kalau kebanyakan memasukkan cacing sutra kedalam kolah, airnya tidak terkontaminasi.
  • Harga mahal dan barangnya kadang langka, Pada saat tertentu terutama musim hujan, cacing sutra di alam langka dikarenakan terhanyut oleh banjir, sementara indukan lele musim bertelur, sehingga terjadi kekurangan pakan alami, hal tersebut penyebab mahalnya harga cacing sutra. Dengan adanya budidaya cacing sutra ini mengurangi kelangkaan pakan alami .
  • Mencegah virus atau bakteri pantogen masuk kekolam pembenihan, Dengan adanya budidaya, virus patogen dari alam tidak akan masuk kedalam kolam, karena cacing budidaya lebih steril daripada cacing sutra dari alam
  • Pakan budidaya cacing sutra murah, Pakan cacing sangat mudah didapatkan dan murah harganya. Hampir semua bahan yang makanan yang bisa dimakan oleh manusia jika busuk bisa dijadikan makanan cacing susah, misalnya nasi basi, sayur-sayuran busuk, ampas tahu, ampas ketela pohon, roti kadaluarsa, susu kadaluarsa, dll . atau bisa mengumpulkan sisa makanan dari warung makan disekitar anda.
  • Modal kecil hasil lumayan, Untuk pembuatan sarana dan prasrana budidaya cacing sutra, sangat mudah dan murah, sedangkan tempat yang dibutuhkan untuk budidaya tidak memerlukan tempat yang luas, bahkan tempat yang sempit sekalipun . 
Dengan keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa modal pakan yang dibutuhkan budidaya cacing sutra sangat murah dan mudah didapat . Sehingga biaya produksi lebih lecil, maka keuntungan lebih besar .

Semoga Bermanfaat...

Tuesday, July 7, 2015

Budidaya Kepiting Bakau

Faktor teknik yang perlu diperhatikan untuk menunjang keberhasilan budidaya pembesaran kepiting, antara lain :
1. Pemilihan Lokasi Budidaya
Pemilihan lokasi budidaya harus tepat secara teknis operasional dengan mempertimbangkan beberapa aspek sebagai berikut :
  • Mutu air : Salinitas 15 - 30 ppt, pH air 7 - 8, Suhu 25 - 30 derajat Celcius, Kandungan Oksigen > 3 ppm.
  • Mudah diawasi.
  • Substrat dasar tambak adalah lumpur berpasir.
  • Untuk sistem karamba harus terhindar dari pengaruh banjir dan mudah terjangkau oleh pasang surut.
  • Merupakan wilayah penangkapan kepiting.
Lokasi budidaya kepiting bakau
2. Tempat pemeliharaan
Tempat pemeliharaan kepiting bisa berupa kurungan bambu, waring, maupun bak beton. Untuk tempat pemeliharaan kepiting yang berasal dari kurungan bambu (karamba) disarankan berukuran 1,5x1x1 meter atau 2x1x1 meter, hal ini bertujuan memperrmudah pengelolaannya terutama pada waktu mengangkat karamba di waktu panen.
Karamba yang dapat digunakan untuk budidaya kepiting bakau
3. Pemilihan Benih
Kesehatan benih merupakan satu diantara faktor yang menunjang keberhasilan dalam usaha penggemukan kepiting. Oleh sebab itu pemilihan dan pengelolaan benih harus benar dan tepat. Kesehatan benih juga bisa dilihat dari kelengkapan kaki-kakinya. Hilangnya capit akan berpengaruh pada kemampuan untuk memegang makanan yang dimakan serta kemampuan sensorisnya. Walaupun pada akhirnya setelah ganti kulit maka kaki yang baru akan tumbuh tetapi hal ini memerlukan waktu, belum lagi adanya sifat kanibalisme kepiting, sehingga kepiting yang tidak bisa jalan karena sedang ganti kulit sering menjadi mangsa kepiting lainnya. Untuk itu maka harus dipilih benih yang mempunyai kaki masih lengkap. Benih kepiting yang kurang sehat warna karapas akan kemerah-merahan dan pudar serta pergerakannya lamban.
Benih kepiting bakau
4. Pengangkutan Benih
Walaupun kepiting bakau merupakan hewan yang tahan terhadap perubahan lingkungan namun cara pengangkutan yang salah bisa menyebabkan kematian dalam jumlah banyak atau mengurangi sintasan. Pengangkutan benih sebaiknya dilakukan sewaktu suhu udara rendah dan kurang sinar matahari. Tereksposenya benih kepiting ke dalam sinar matahari bisa menimbulkan dehidrasi yang pada akhirnya cairan dalam tubuh kepiting akan keluar semuanya sehingga menyebabkan kematian. Tingginya kematian benih setelah sampai tempat tujuan biasanya disebabkan karena benih yang dibeli memang sudah lemah akibat sudah ditampung beberapa hari oleh pedagang pengumpul. Biasanya kematian kepiting terjadi setelah hari ke-4 dalam penampungan tanpa air. Wadah yang dipakai dalam pengangkutan kepiting sebaiknya tidak menyebabkan panas dan letakkan kepiting dalam posisi hidup. Wadah sterofoam dengan panjang 1 m dan lebar 60 cm dapat menyimpan benih sebanyak 100 - 150 ekor untuk benih yang diikat. Lakukan penyiraman sebanyak 2 - 3 kali penyiraman dengan air berkadar garam 10 - 25 ppt, selama pengangkutan 5 - 6 jam.
Pengangkutan benih kepiting
5. Penebaran
Penebaran kepiting dilakukan pada pagi atau sore hari pada karamba. Benih kepiting yang ditebarberukuran berat 200 - 300 gram per ekor. Untuk ukuran karamba 1,5 - 2 x 1 x 1 meter kepadatan tebar nya kurang lebih 15 - 25 kg atau sebanyak 60 - 70 ekor.

Penebaran bibit kepiting
6. Pemeliharaan
Penempatan karamba dalam petak tambak disarankan diletakkan di dekat pintu masuk/keluar air. Posisi karamba sebaiknya menggantung berjarak 15 cm dari dasar perairan yang tujuannya agar sisa pakan yang tidak termakan jatuh ke dasar perairan tidak mengendap di dalam karamba. Diusahakan seminggu 2 kali karamba dipindah dari posisi semula hal ini bertujuan agar terjadi sirkulasi / pergantian air. Kegiatan dalam pemeliharaan setelah penebaran dilakukan :
  • Pemberian pakan rucah lebih diutamakan dalam bentuk segar sebanyak 5 -10% dari berat badan dan diberikan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore/malam hari.
  • Penggantian air dilakukan bila terjadi penurunan kualitas air.
  • Sampling dilakukan setiap 5 hari untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan dan kesehatan kepiting.
Dengan pengelolaan pakan yang cermat, cocok dan tepat jumlah maka dalam tempo 10 hari pertumbuhan kepiting bisa diketahui.

Ikan rucah sebagai salah satu pakan utama kepiting bakau
7. Pemanenan
Pemeliharaan / penggemukan kepiting di karamba dapat dilakukan selama 15 hari, tergantung pada ukuran benih dan laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan oleh jenis pakan yang diberikan dan kualitas air tambak. Untuk memanen kepiting digunakan alat berupa seser baik untuk tujuan pemanenan total maupun selektif. Pelaksanaan panen harus dilakukan oleh tenaga terampil untuk menangkap dan kemudian mengikatnya. Selain itu tempat dan waktu penyimpanan sebelum didistribusikan kepada konsumen menentukan kesegaran dan laju dehidrasi karena kehilangan berat sekitar 3 - 4% dapat menyebabkan kematian.
Kepiting bakau yang siap jual
Semoga bermanfaat...

Friday, July 3, 2015

Peluang Usaha Budidaya Kepiting Bakau

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu jenis komoditas perikanan yang potensial untuk dibudidayakan. Kepiting bakau banyak dijumpai di perairan payau yang banyak ditumbuhi tanaman mangrove. Kepiting bakau sangat disenangi oleh masyarakat mengingat rasanya yang lezat dengan kandungan nutrisi sejajar dengan crustacea yang lain seperti udang yang banyak diminati baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri.
Kepiting Bakau
Begitu banyak hasil laut dan air tawar yang merupakan komoditas andalan suatu daerah bahkan suatu negara seperti, ikan, kerang, udang, lobster dan kepiting. Khusus untuk kepiting sangat jarang masyarakat kita yang membudidayakan kepiting secara khusus, padahal jika dikelola dan dikembangkan secara terpadu, maka kepiting ini sangat menjanjikan. 

Potensi pasar yang cukup besar memberi peluang bagi pengembangan budidaya kepiting bakau secara lebih serius dan komersial. Di sisi lain produksi kepiting selama ini secara keseluruhan masih mengandalkan tangkapan dari alam, sehingga kesinambungan produksinya tidak dapat dipertahankan.

Saat ini budidaya kepiting bakau ini tidak harus di laut dan di daerah bakau, namun dapat juga dan telah berhasil dibenihkan pada bak-bak terkontrol dan dapat diproduksi di hatchery ikan laut maupun udang windu. Kepiting bakau atau yang lebih dikenal dengan kepiting lumpur merupakan salah satu sumber daya perikanan pantai yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi bila dikembangkan dan dibudidayakan. Pembudidayaan atau pemanfaatan secara komersil dari komoditas ini semakin meningkatkan baik untuk dikonsumsi dalam negeri maupun untuk diekspor.

Di dalam negeri kepiting bakau ini juga telah banyak dijual di pasaran-pasaran tradisional hingga ke swalayan mewah (supermarket), dan disajikan di rumah makan kecil di pinggiran jalan sampai restoran bahkan sampai hotel berbintang. Untuk pangsa pasar eksport kepiting bakau Indonesia ini antara lain Jepang, Malaysia, Prancis sampai ke Amerika Serikat (AS), sehingga sangat wajar jika peminat kepiting tersebut sangat tinggi, karena binatang yang berkulit keras ini selain memiliki rasa gurih, enak dan juga bergizi tinggi. Dengan alasan tersebut, pihaknya berharap kepada Pemkab agar dapat memprogramkan bantuan untuk budidaya kepiting para nelayan khususnya di pesisir, karena hal tersebut jelas akan membantu dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama nelayan serta penurunan angka pengangguran yang ada di Lampung Barat. 

Budidaya kepiting ini tentunya akan menyerap tenaga kerja yang lumayan banyak jika hal ini dikelola dan dikembangkan secara terpadu dan dalam skala besar. Pada mulanya kepiting bakau hanya dianggap hama oleh Petani tambak, karena sering membuat kebocoran pada pematang tambak. Tetapi setelah mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan untuk penghasilan tambahan dan bahkan telah mulai dibudidayakan secara tradisional di tambak. Mengingat permintaan pasar ekspor akan kepiting bakau yang semakin meningkat dari tahun ke tahun maka usaha ekstensifikasi budidaya kepiting bakau mulai dirintis di beberapa daerah.

Kepiting bakau dapat dipelihara secara terus menerus sepanjang tahun, karena ketersediaan benih di alam saat ini cukup banyak juga lahan tambak pembesaran dapat disiapkan dengan mudah dan cepat. 

Diversifikasi usaha budidaya kepiting bakau di tambak akan menambah lapangan usaha dan mengoptimalkan potensi lahan tambak yang ide serta dapat menyerap tenaga kerja, sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya.

Friday, May 8, 2015

Pencegahan Penyebaran Penyakit Ikan

Dalam usaha budidaya ikan air tawar, menjaga ikan agar tetap sehat adalah salah satu kunci sukses budidaya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kekebalan dan daya tahan tubuh ikan, namun pada prinsipnya pencegahan dapat ditinjau berbagai pendekatan lingkungan, inang dan pathogen.
Ikan yang sehat
Upaya pencegahan penyakit ikan dapat dimulai dari induk ikan tersebut dengan cara Membuat program peningkatan kualitas induk melalui seleksi/breeding/transgenik dalam rangka memproduksi induk unggul dan tahan penyakit, serta pemberian suplemen seperti vaksin, imunostimulan, probiotik dan pakan sehat (Vit C, mikronutrien).

Pada benih ikan upaya pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara pemberian Vaksin, Suplemen serta penaganan/handling yang tepat pada saat pengangkutan, penebaran, pemberian pakan maupun pada saat panen.

Dalam upaya pengendalian penyakit terdapat 2 cara takni secara eksternal/Ofensif dan internal/defensif.

1. Secara Eksternal/Ofensif: Menekan resiko infeksi pathogen
  • Desinfektan
  • Garam krosok
  • Abate
  • Fitofarmaka (daun pepaya, badotan,…)
  • Probiotik (menekan bakteri merugikan): utk lingkungan
2. Secara Internal/Defensif: bertahan (meningkatkan daya tahan/kekebalan tubuh)

  • Vaksin: hydrovac utk Aeromonas hydrophila
  • Vitamin C atau multi vitamin dan mineral
  • Immunostimulan: ragi, chromium yeast, fitofarmaka (bawang putih, meniran, mengkudu)
  • Rekayasa Genetik: gen MHC (Major Histocompatibility Complex) materi genetik spesifik untuk daya tahan terhadap penyakit)
Bahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya tahan dan kesehatan ikan :

  1. Vaksin : Memberikan kekebalan tubuh melalui pembentukan antibodi spesifik
  2. Imunostimulan : Merangsang kekebalan non-spesifik, misal: aktivitas fagositosis (sel pembunuh kuman)
  3. Vitamin C untuk ikan : Mencegah kelainan tulang pd benih, Meningkatkan ketahanan thd penyakit, Mengurangi pengaruh stress, Mempercepat penyembuhan luka, Mempercepat pertumbuhan.
  4. Probiotik : Meningkatkan kecernaan (daya cerna)

Sumber : Materi Pelatihan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...






Sunday, May 3, 2015

Penyakit Jamur Saprolegnia Pada Ikan

Infeksi jamur pada ikan dalam akuarium biasanya disebabkan oleh jamur dari genus Spaprolegnia dan Achyla. Jamur biasanya hanya akan menyerang jaringan luar tubuh ikan yang rusak sebagai akibat luka atau penyakit lain. Jamur dapat pula menyerang telur ikan. Selain karena luka, kehadiran jamur dapat pula disebabkan atau dipicu oleh kondisi air akuarium yang buruk, baik secara fisik maupun kimia. Ikan-ikan berusia tua diketahui sangat rentan terhadap infeksi jamur. Pada saat ini, dengan banyaknya fungisida (obat anti jamur), maka serangan jamur sedikit banyak akan dapat ditangani dengan lebih mudah.
Saprolegnia
Ikan yang terserang jamur Saprolegnia

Deskripsi umum :
Achlya sp. dan Saprolegnia sp. dapat menginfeksi telur dan ikan.

Gejala Klinis :
  • Adanya hypha (benang-benang putih/coklat seperti kapas)
  • Terjadi pada ikan yang terluka atau telur

Sumber : Materi pelatihan budidaya perikanan

Semoga bermanfaat...

Thursday, April 16, 2015

Penyakit Bakterial Pada Ikan

Bakteri merupakan mikroorganisme yang berukuran sangat kecil. Di lingkungan budidaya biasanya melayang bebas di air, menempel pada jaring, tumbuhan dan binatang air.
Salah satu ikan yang terkena serangan bakteri
Penyebab Penyakit Bakterial :
  • Stress karena kepadatan, mutu pakan dan kondisi air kurang baik
  • Luka akibat infeksi parasit
  • Polusi bahan organik dan sirkulasi air kurang memadai
  • Luka fisik selama pengangkutan

Gejala Klinis Ikan Terserang Penyakit Bakterial :
  • Gerakan ikan lemah
  • Produksi lendir berkurang setelah ikan yang terinfeksi mengeluarkan lendir yang berlebihan
  • Timbul  pendarahan pada tempat infeksi
  • Luka (ulcer) pada tempat infeksi
  • Beberapa bakteri menyebabkan rontok pada insang dan sirip
  • Timbul Ascites (semacam benjolan)
  • Bengkak pada perut dan mengeluarkan cairan kuning darah  (dropsy)
  • Mata menonjol (exophthalmos)

Beberapa jenis penyakit pada ikan yang disebabkan oleh bakteri :

1. Penyakit yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini sangat berbahaya karena  dapat menginfeksi semua jenis ikan air tawar. Infeksi biasanya berkaitan dengan kondisi stress akibat: kepadatan, malnutrisi, penanganan, infeksi parasit, air lewat subur, oksigen rendah, kualitas air yang buruk, fluktuasi suhu air yang ekstrim, dll.

Serangan bersifat akut, dan apabila kondisi lingkungan terus merosot, kematian yang ditimbulkan bisa mencapai 100%

Ikan yang terserang penyakit Aeromonas
Deskripsi umum :
Biasanya diawali dengan luka karena penanganan dan kondisi kualitas air

Gejala klinis :
  • Borok (ulcer)
Ikan yang mengalami borok akibat bakteri Aeromonas













  • Dropsy/kembung
Ikan yang mengalami kembung akibat bakteri Aeromonas












  • Iritasi sirip
Ikan yang mengalami iritasi sirip akibat bakteri Aeromonas







  • Sisik menguak

Pengendalian :
  • Immunostimulan
  • Desinfektan
  • Vaksinasi

2. Penyakit yang disebabkan oleh Edwardsiella ictaluri
Ikan yang terserang bakteri Edwardsiella ictaluri
Gejala Klinis :
  • Tubuh lemah
  • Menggantung di permukaan
  • Gerakan memutar

Pengendalian :
  • Immunostimulan
  • Pengapuran (50-100 gr/m2) pada saat persiapan lahan

3. Penyakit yang disebabkan oleh Streptococcus sp

Ikan yang terkena serangan bakteri Strptococcus sp
Gejala Klinis :

  • Mata menonjol
  • Warna tubuh hitam/melanosis
  • Gerakan memutar

Pengendalian :
  • Immunostimulan
  • Desinfektan Vaksinasi

Sumber : Materi Pelatihan Budidaya Perikanan

Semoga Bermanfaat...




























Monday, April 13, 2015

Penyakit Parasit Pada Ikan (2)

4. Penyakit ikan yang disebabkan oleh Lernaea sp



Lernaea sp
Deskripsi umum :

  • Dapat dilihat secara visual menempel pada ikan
  • Bentuk seperti jarum dengan kait yang menancap pada daging
  • Berkembang biak dengan cara bertelur

Tanda Penyakit :

  • Pada ikan yang terserang, terlihat ada jarum di permukaan tubuhnya
  • Kurang nafsu makan, daya tahan tubuh menurun
  • Pendarahan pada lokasi infeksi

Ikan yang terserang Lernaea sp
Pengendalian :
Pencegahan dengan cara penyemprotan kolam

5. Penyakit ikan yang disebabkan oleh Argulus sp
Argulus sp

Deskripsi Umum :

  • Dikenal dengan nama Kutu Ikan
  • Bentuk bulat 
  • Menempel pada tubuh inang

Tanda Penyakit :

  • Terlihat secara visual menempel pada permukaan tubuh ikan
  • Bekas gigitan terjadi pendarahan dan sisik terkelupas
Ikan yang terserang Argulus sp
Pengendalian :


  • Filterisasi
  • Abate : 10 gram/100 liter air

6. Penyakit ikan yang disebabkan oleh Oodinium sp

Oodinium sp
Deskripsi umum :

  • Bentuk bulat atau lonjong
  • Diameter: 20-100 um
  • Menginfeksi permukaan tubuh dan insang

Tanda Penyakit :

  • Kerusakan pada kulit
  • Kehilangan warna tubuh
  • Pendarahan dan peradangan

Pengendalian :
Garam 1.000-2.000 ppm-24 jamv (1.000-2.000 gr/1 m3 air)

7. Penyakit ikan yang disebabkan oleh Myxosporea
Myxospora

Beberapa jenis Myxosporea yang menyerang ikan air tawar Myxobolus koi, Myxobolus artus dan Thellohanellus sp.

Deskripsi umum :

  • Menginfeksi insang (M.koi dan Thellohanellus) dan daging (M. artus).
  • Termasuk jenis protozoa yang berspora

Pengendalian :
Pencegahan dengan pengapuran

Sumber : materi pelatihan budidaya ikan

Semoga Bermanfaat...




























Tuesday, April 7, 2015

Penyakit Parasit Pada Ikan (1)

Parasit adalah organisme yang hidup pada organisme lain dan mendapat keuntungan dari hasil simbiosenya sedangkan inang dirugikan.

Penyakit Parasit adalah Penyakit yang disebabkan oleh organisme pengganggu (parasit).

Cara penularan penyakit parasitik :

  • Melalui air.
  • Melalui kontak atau gesekan secara langsung dengan ikan yang terserang penyakit atau parasit. Penebaran ikan-ikan yang tidak sehat biasanya akan berakibat buruk, terutama jika padat penebaran terlalu tinggi. 
  • Melalui alat-alat yang telah digunakan untuk menangani atau mengangkut ikan-ikan yang terserang penyakit atau parasit. Sebaiknya peralatan yang digunakan untuk menangani atau mengangkut ikan disterilkan dahulu untuk membunuh penyakit atau parasit. 
  • Terbawa oleh ikan, makan atau tumbuhan dari daerah asalnya dan berkembang dengan pesat dikolam yang baru. Pemindahan ikan, makanan alami atau tumbuhan dari suatu perairan yang telah tercemar 

Ciri-ciri ikan terserang parasit :


  • Ikan terlihat pasif, lemah dan kehilangan keseimbangan. 
  • Nafsu makan mulai berkurang 
  • Malas berenang dan cenderung mengapung di permukaan air. 
  • Adakalanya ikan bergerak secara cepat dan tiba-tiba. 
  • Selaput lendimya berangsur-angsur berkurang atau habis, sehingga tubuh ikan tidak licin lagi (kesat). 
  • Pada permukaan tubuh ikan terjadi pendarahan, terutama dibagian dada, perut atau pangkal ekor. 
  • Di beberapa bagian tubuh ikan, sisiknya tampak rusak bahkan terlepas. Sering pula terlihat kulit ikan mengelupas. 
  • Sirip dada, punggung maupun ekor sering di jumpai rusak dan pecah-pecah, pada serangan yang lebih hebat kadang-kadang hanya tinggal jari-jari siripnya saja. 
  • Insang terjadi rusak sehingga ikan sulit untuk bernafas, wama insang menjadi keputih-putihan atau kebiru-biruan.

Berikut beberapa penyakit yang disebabkan oleh Parasit :
1. Penyakit Bintik Putih yang disebabkan oleh parasit Ichthyophthirius multifiliis 
Parasit Ichthyophthirius multifiliis
Deskripsi umum :

  • Bercilia sebagai alat penggerak.
  • Bentuk bulat.
  • Menginfeksi permukaan tubuh (antara epidemis, dan dermias) serta insang.
  • Ciri khusus : macronucleus berbentuk seperti tapal kuda.
Tanda Penyakit :
  • Bintik Putih
  • Berenang lambat
  • Tergeletak didasar perairan
Salah satu ikan yang terserang penyakit white spot
Pengendalian :
  • Suhu 28 - 32 derajat celcius.
  • Menggunakan garam dengan dosis 2 kg/m kubik.
2. Penyakit yang disebabkan oleh Chillodonella sp
Parasit Chillodonella sp
Deskripsi umum :

  • Bentuk Lonjong.
  • Menginfeksi permukaan tubuh (antara epidemis, dan dermias) serta insang.
Tanda Penyakit :
  • Gerakan lamban
  • Warna tubuh pucat 
  • Kulit teriritasi
Ikan yang terserang parasit Chillodonella sp
Pengendalian :
Garam 1.000-2.000 ppm selama 24 jam (1.000-2.000 gr/1 m3 air)

3. Penyakit yang disebabkan oleh Monogenea (cacing/lintah)
Parasit Monogenea
Beberapa jenis Monogenea yang sering menginfeksi: Dactylogyrus sp, Gyrodactylus sp.

Deskripsi umum :
Menyerang insang (Dactylogyrus sp dan Gyrodactylus sp) serta permukaan tubuh (Gyrodactylus sp)

Tandan Penyakit :
  • Warna tubuh pucat
  • Kondisi ikan lemah
  • Megap-megap
Contoh insang ikan yang terserang parasit Monogenea

Sunday, March 22, 2015

Faktor Pemicu Ikan Sakit

Penyakit ikan merupakan salah satu faktor pembatas terpenting dalam budidaya ikan, yang juga bisa mengancam kelestarian sumberdaya perikanan. Kejadian penyakit ditentukan oleh kesehatan ikan, adanya patogen serta lingkungan.

Dalam budidaya ikan kita pasti banyak menemui hambatan penyakit yang menyerang ikan budidaya yang tentunya berbagai macam penyebabnya, hal tersebut perlu di perhatikan dan di amati darimana penyebab penyakit itu terjadi dan menyebar serta cara penangan yang tepat seperti apa. 

Penyakit ikan adalah suatu keadaan fisik, morfologi, dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena berbagai penyebab, baik internal ataupun eksternal.
Salah satu contoh ikan yang terserang penyakit
Diagaram Hubungan Antara Inang , Patogen dan Lingkungan 
Penyakit terjadi apabila ketiga faktor diatas (inang, lingkungan, dan pathogen) tidak dalam keadaan seimbang.
Keterangan :
  • Inang : Ikan yang dibudidayakan
  • Lingkungan : Tanah, air, dan udara
  • Pathogen : Organisme penyebab penyakit


Mekanisme Terjadinya Penyakit
Urutan terjadinya ikan sakit
  • Timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil dari interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan jasad/ organisme penyakit.
  • Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit.

Faktor yang memicu terjadinya penyakit ikan antara lain sebagai berikut :
  • Stress
  • Pemberian pakan yang berlebihan
  • Keracunan (Kualitas air buruk)
  • Lukan, memaratau iritasi pada tubuh ikan

Penularan Penyakit
  • Penularan secara Vertikal : Ditransfer oleh  induk ke anak melalui sperma atau telur.
  • Penularan secara Horizontal : Melalui air, pakan alami/pakan segar/pakan buatan, organisme lain yang terdapat dalam media pemeliharaan.

Penularan penyakit juga dibedakan menjadi penularan penyakit secara Infeksi dan Non Infeksi:
Bagan penularan penyakit ikan secara Infeksi dan Non infeksi
Bagaimana Cara Mendeteksi Ikan Yang Sakit ??
  • Ikan cenderung naik ke permukaan
  • Operculum (tutup insang) bergerak cepat
  • Berenang lamban
  • Cenderung memisahkan diri
  • Nafsu makan berkurang
  • Menggosok-gosokkan tubuh ke dinding kolam
  • Gerakan memutar: hilang keseimbangan

Gejala Klinis Ikan sakit
  • Warna tubuh abnormal
  • Mata menonjol, sisik terkuak
  • Tubuh kasap
  • Luka/borok di permukaan tubuh
  • Insang rusak
  • Sirip geripis
  • Organ dalam abnormal
  • Tubuh kurus, kepala besar
  • Perut kembung



























Monday, February 2, 2015

Penggunaan Vaksin Pada Ikan

Budidaya ikan tak lepas dari beberapa hambatan yang harus dilalui dan dipecahkan. Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah adanya penyakit yang menyerang ikan. Cara penanganan ikan yang sakit (atau pengendalian penyakit) bisa dengan pencegahan maupun pengobatan.

Obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit parasitikdan bakterial, tetapi antibiotika menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika di ikan (untuk keamanan pangan) dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itulah beberapa produk perikanan Indonesia di tolak pasar Uni Eropa karena terdapat residu antibiotik.

Cara yang paling murah dan efisien dalam pengendalian penyakit adalah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolaan lingkungan, penggunaan pakan yang tepat mutu, tepat jumlah,dan tepat pemberiannya. Salahsatu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasikan adalah dengan cara menimbulkan kekebalan tubuh.
Gerakan Vaksinasi Ikan
Kekebalan pada ikan dapat ditimbulkan baik dengan menggunakan vaksin maupun dengan menggunakan imunostimulator lain. Prinsip dasar vaksinasi yaitu memasukkan vaksin/antigen kedalam tubuh ikan sehingga antigen tersebut merangsang system imun tubuh ikan untuk memproduksi antibodi(kekebalan specifik). Dengan hanya 1 atau dua kali pemberian vaksin biasanya daya tahan tubuh/kekebalan akan bertahan sampai akhir masa pemeliharaan ikan. Vaksinasi memiliki beberapa keunggulan, yaitumampu menggantikan antibiotik, tidak ada dampak negatifpada ikan, tanpa residu berbahaya, tidak membuat patogen resisten, serta bisa diterima pasar (ekspor). (sumber)

Mengapa VAKSINASI IKAN..??
Dalam budidaya oerikanan faktor yang diperlukan untuk memperoleh kemungkinan pencapaian Survival Rate (SR) tertinggi, yaitu:

  1. Nutrisi yang baik
  2. Benih berkualitas yang baik
  3. Cara penanganan dan budidaya yang baik
  4. Diterapkan manajemen kesehatan
  5. Vaksin merupakan metode terbaik untuk meningkatkan SR dan keuntungan budidaya ikan. 

Apa itu VAKSIN..?
Suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen tersebut yang telah dilemahkan, dimatikan atau direkayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktiv.

Persyaratan VAKSIN yang ideal
Penggunaan vaksin pada ikan budidaya harus memperhatikan beberapa faktor sehingga dalam penggunaan vaksin akan tepat guna dan manfaat. Adapun persyaratan vaksin yang ideal adalah sebagai berikut :
  1. Aman bagi ikan, lingkungan air dan konsumen
  2. Vaksin harus spesifik untuk pathogen tertentu
  3. Vaksin harus dapat melindungin ikan dalam waktu yang lama minimal satu siklus produksi
  4. Mudah didapat, mudah diterapkan dan ekonomis
  5. Terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pertimbangan dalam melakukan VAKSINASI IKAN
  1. Spesies ikan
  2. Status sistem imun
  3. Siklus produksi dan siklus hidup
  4. Penyakit apa yang akan dikendalikan
  5. Kapan wabah penyakit biasa terjadi
  6. Tingkat  teknologi yang diterapkan
  7. Lingkungan (temperature)
  8. Faktor-faktor stress
  9. Nutrisi
Metode VAKSINASI IKAN
  1. Perendaman
  2. Media Pakan
  3. Penyuntikan
Hal-hal yang perlu diketahui saat aplikasi VAKSIN pada ikan, antara lain :
  1. Pemberian vaksin pada ikan melalui teknik yang direkomendasikan misalkan melalui penyuntikan, perendaman atau melalui pakan.
  2. Untuk pemberian vaksin yang memiliki proteksi yang relatif singkat (beberapa hari atau minggu) harus diperlukan vaksinasi ulang (booster).
  3. Pemberian vaksin harus mempertimbangkan umur/ukuran ikan yang rentan terhadap jenis penyakit yang menjadi target untuk dicegah, serta saat/musim muncul penyakit tersebut.
  4. Perhatikan dan ikuti prosedur transportasi, penyimpanan dan pemberian vaksin sesuai dengan yang direkomendasikan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan VAKSINASI IKAN :
  1. Bila pemberian vaksin melalui perendaman atau pakan sebaiknya ikan telah berumur 1 minggu atau lebih
  2. Pemberian vaksin dengan penyuntikan maka ukuran jarum suntik harus disesuaikan dengan ukuran ikan
  3. Ikan harus dalam kondisi sehat (tidak sakit/stress)
  4. Suhu air relatif hangat (diatas 25ÂșC) karena respon antibodi ikan akan lebih cepat
  5. Air yang digunakan untuk aplikasi vaksin dan pemeliharaan harus bebas dari polutan
Perbandingan Keunggulan dan Kelemahan metode VAKSINASI IKAN


Beberapa VAKSIN IKAN yang digunakan untuk akuakultur di Indonesia














Aplikasi VAKSINASI IKAN
* TEKNIK PERENDAMAN
Penggunaan Vaksin KV3 untuk pencegahan penyakit Koi Herves Virus (KHV)
Vaksin KV3 untuk penyakit Koi Herves Virus
  1. Pilih ikan yang akan divaksin adalah hanya ikan mas yang dalam kondisi sehat, dengan bobot minimal 10 gr/ ekor dan umur minimal 3 bulan sejak menetas.
  2. Jumlah ikan yang akan divaksin sebanyak 250 – 300 Kg atau sekitar 25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr ) per 100 ml vaksin KV 3 ( per botol ).
  3. Siapkan bak metal/ fiberglass/kolam keramik untuk proses vaksinasi dengan kapasitas  minimal  1500 liter.
  4. Isi dengan  air sumur atau air tampungan hujan ( lebih baik yang sudah diendapkan lebih dahulu ) sebanyak 1000 liter.
  5. Jaga parameter kondisi air dengan kisaran suhu 200C - 250C.
  6. Gunakan aerator, water pump dan es balok jika diperlukan untuk menjaga kestabilan parameter air
  7. Siapkan vaksin KV 3 beku 100 ml di dalam wadah freezer/ ice cooler.
  8. Masukan benih ikan mas yang sudah dipersiapkan untuk divaksin sebanyak 250- 300 Kg atau sekitar  25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr )  ke dalam bak vaksinasi tersebut.
  9. Pelarutan vaksin dilakukan dengan cara memasukan botol vaksin yang dalam keadaan beku,  lalu buka tutupnya dan langsung masukan ke dalam tangki vaksinasi sambil digoyang2kan hingga larut seluruhnya.
  10. Laksanakan proses vaksinasi selama 45 - 60 menit sejak seluruh vaksin larut.
  11. Jaga parameter kondisi air agar tetap stabil selama proses vaksinasi ( suhu 200C - 250C, kandungan oksigen terlarut 6 ppm, ph 6,8 – 7,4 ).
  12. Setelah selesai proses vaksinasi 45 - 60 menit, pindahkan benih ikan mas  tersebut  ke bak penampungan.
  13. Larutan bekas rendaman masih dapat digunakan 1 kali lagi dengan jumlah ikan yang sama.
Teknik vaksinasi ikan dengan perendaman

* TEKNIK PENYUNTIKAN
Penggunaan Vaksin Anti Aeromonas dan Vaksin Streptococcus
Vaksin untuk Aeromonas

Vaksin 
  1. Teknik ini cocok untuk calon induk atau induk ikan.
  2. Aplikasi dapat dilakukan secara intraperitoneal (i.p)/ bagian perut atau intramuskuler (i.m)/ bagian otot.
  3. Dosis yang diberikan adalah 0.1-0.2 ml/kg bobot ikan.
Pemberian vaksin dengan teknik penyuntikan

* TEKNIK ORAL (PEMBERIAN PAKAN)
Pemberian vaksin dengan teknik oral (pemberian pakan)
  1. Larutkan progol dalam air hangat, 2-3 gr progol dengan 1 gelas air. Fungsinya sebagai perekat.
  2. Campurkan dengan vaksin 3 ml
  3. Campurkan ke dalam pakan untuk 1kg pakan
  4. Dikering anginkan dan siap diberikan ke ikan
  5. Pemberian vaksin melalui pakan dilakukan selama 5 hari berturut-turut

sumber : Astuti, SP. Aplikasi Vaksin. Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Pengembangan Teknologi Perikanan dan Kelautan

Semoga Bermanfaat...