Showing posts with label Ikan. Show all posts
Showing posts with label Ikan. Show all posts

Tuesday, August 4, 2015

Teknik Budidaya Cacing Sutera

Budidaya cacing sutera dapat dilakukan pada kolam tanah, kolam plastik maupun di rak nampan plastik bertingkat. Semua wadah mempunyai keunggulannya masing - masing. Namun yang paling mudah dan menghemat ruang adalah budidaya cacing sutera pada rak nampan plastik bertingkat.
Cacing Sutera
Budidaya cacing sutra dengan Tray/Nampan terhitung baru dilakukan. Sistem ini sebetulnya bukan hal baru pada sistem pembesaran pada budidaya udang. Sistem ini pada dasarnya mengolah dan menggunakan kembali air yang sudah dipakai pada proses budidaya udang. Pengisian air  baru dari luar sistem hanya dilakukan untuk mengganti air yang susut/berkurang akibat kebocoran ataupun evaporasi. Pada sistem budidaya cacing sutra dengan menggunakan nampan/tray ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu : 
  1. Lebih hemat dalam penggunaan air. Air yang sudah melewati susunan media pada    nampan/tray ditampung dengan wadah yang ada dibagian bawah rak untuk kemudian dialirkan kembali ke media yang paling atas dengan menggunakan pompa air/dab.
  2. Menghemat Penggunaan Probiotik dan Obat-obatan lainnya. Probiotik dan obat-obatan yang dicampur pada media tumbuh/substrat budidaya cacing sutra yang ikut terbawa arus air tidak terbuang dengan percuma ke perairan luar. Probiotik yang ikut tertampung pada wadah bagian bawah wadah rak bersama air bisa digunakan kembali dengan cara dialirkan ke media yang paling atas dengan bantuan pompa air/dab.
  3. Budidaya cacing sutra dengan sistem ini tidak membutuhkan lahan yang luas, karena medianya disusun ke atas secar vertikal yang cenderung bisa juga dilahan yang sempit seperti disela-sela sekatan rumah ataupun tempat lainnya. Agar kapasitas produksinya bisa maksimal ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam budidaya tubifex sp  dengan sistem tray/nampan ini, yaitu : 

  • Nampan diusahakan agar yang awet dan tahan pecah, sehingga bibit yang sudah ada dimedia tidak mesti mengulang dari awal budidaya yang biasanya membutuhkan waktu 50 – 57 hari mulai dari awal sampai dengan panen.
  • Kayu balok dan reng bambu yang dipakai juga diusahakan agar kwalitasnya juga bagus untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti patah/roboh akibat kayu/reng bambunya patah atau gampang rapuh. 
  • Jumlah nampan/tray diatur sebanyak mungkin dengan tetap memperhatikan kekuatan rangka yang ada 
  • Semakin banyak rak/susunan kerangka akan semakin banyak produksi cacing sutra

Rak nampan plastik bertingkat
Perkembangbiakan Cacing Sutera
Khairuman dan Amri (2002), menyatakan cacing sutra ( Tubifek sp ) adalah termasuk organism hermaprodit. Pada satu individu organism ini terdapat dua alat kelamin dan berkembangbiak dengan cara bertelur dari betina yang telah matengtelur. Sedangkan menurut Chumaidi dan Suprapto ( 1986 ), telur cacing sutra terjadi didalam kokon yaitu suatu bangunan berbentuk bangunan bulat telur, panjang 1mm dan diameter 0,7 mm yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dari salah satu segmen tubuh yang disebut kitelum. Tubuhnya sepanjang 1,5-2,5cm, terdiri dari 30-60 segmen atau ruas. Telur yang ada didalam tubuh mengalami pembelahan, selanjutnya berkembang membentuk segmen-segmen.Setelah beberapa hari embrio cacing sutra akan keluar dari kokon.

Induk yang dapat menghasilkan kokon dan mengeluarkan telur yang menetas menjadi cacing sutra mempunyai usia sekitar 40-45 hari. Jumlah telur dalam setiap kokon berkisar antara 4-5 butir.Waktu yang dibutuhkan untuk proses perkembangbiakan telur didalam kokon sampai menetas menjadi embrio tubifex membutuhkan waktu sekitar 10-15 hari. Daur hidup cacing sutra dari telur, menetas hingga menjadi dewasa serta mengeluarkan kokon dibutuhkan waktu sekitar 50-57 hari

Syarat Hidup Cacing Sutera
Cacing sutra memiliki bentuk dan ukuran yang kecil serta ramping dengan panjangnya 1,5-2,5 cm, sepintas tampak seperti koloni merah yang melambai-lambai karena warna tubuhnya kemerah-merahan, sehingga sering juga disebut dengan cacing rambut. Cacing ini merupakan salah satu jenis benthos yang hidup di dasar perairan tawar daerah tropis dan subtropis, tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai saluran pencernaan, termasuk kelompok Nematoda. Cacing sutera hidup diperairan tawar yang jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bagian-bagianorganik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan tersebut.

Cacing sutera merupakan organisme hermaprodit yang memiliki dua alat kelamin jantan dan betina sekaligus dalam satu tubuh. Berkembangbiak dengan bertelur, proses peneluran terjadi di dalam kokon yaitu suatu segmen yang berbentuk bulat telur yang terdiri dari kelenjaar epidermis dari salah satu segmen tubuhnya. Telur tersebut mengalami pembelahan, kemudian berkembang membentuk segmen-segmen. Setelah beberapa hari embrio dari cacing ini akan keluar dari kokon. Cacing ini mulai berkembangbiak setelah 7-11 hari .

Cacing sutera yang dikenal sebagai cacing rambut ini dapat hidup pada subtract lumpur dengan kedalaman antara 0 – 4 cm. pada prinsipnya Sama dengan hewan air lainnya, namun dalam kehidupannya cacing sutera ini senang dengan air, dan air memiliki peran  fungsi yang sangat penting untuk hidup tumbuh berkembang dengan baik diperlukan kwalitas air yang sesuai yaitu:
  • Pada pH : 5,5 – 8.0
  • Suhu yang baik antara 25 – 28 derajat celcius
  • DO ( oksigen terlarut ) : 2,5 – 28 ppm
  • Untuk kebutuhan debit air secukupnya dan tidak terlalu besar mengingat cacing ini sangat kecil
Cacing sutra tergolong hewan hermaprodit yang berkembangbiak melalui telur dengan pembuahan secara eksternal. telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah jadi dua sebelum saat menetas.

Makanan Cacing Sutera
Semua bahan organik yang dilemebekkan alangkah bagusnya jika difermentasi, jika difermentasi akan meningkatkan kandungan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh cacing sutra. Di alam fermentasi itu terjadi secara alami, sehingga menumbuhkan tumbuhan ganggang yang bervilamen dan pakan alami seperti fittoplankton, yooplankton dan Hewan kecil lainnya . Itulah sebagian makanan cacing sutra dialam. Untuk pakan budidaya cacing sutra yang paling efisien menggunakan ampas tahu yang di fermentasi, karena ampas tahu sudah steril dan lembek. Ampas tahu bisa ditambahkan lagi dengan buah-buahan, tepung ikan, dan bahan yang mudah didapat.

Pembuatan Media Hidup Cacing Sutera
  1. Ambil Lumpur Kolam yg mengandung pasir yang Sudah Disaring
  2. Siapkan Kotoran Ayam  dan ampas tahu yg sudah difermentasi, bahan makanan tsb dicampur dengan perbandingan kohe 1 ampas tahu 10.
  3. Pencampuran makanan tadi dicampur lagi dg Lumpur media. Dg perbandingan makanan 1 lumpur halus 7. kemudian diamkan selama minimal 1 hari.
  4. Teknik budidaya cacing sutera secara umum dapat dilakukan pada media lumpur yang dicampur dengan kotaran ayam dan bekatul, yg sudah difermentasi.
Panen
Untuk mencapai masa panen, budidaya cacing sutra sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama. Jika cara beternak yang diterapkan sudah benar, maka cacing sutra sudah dapat dipanen setelah 8 sampai 10 hari sejak penebaran bibit. Setelah itu, hasil panen sudah dapat dijual di tempat-tempat penjualan pakan ikan atau di toko ikan.

Panen cacing sutera perdana sekitar 2 bulanan kemudian dapat dilakukan 7 – 10 hari sekali. Jika dibiarkan terlalu lama, maka jumlah cacing sutera akan berkurang kembali, karena secara alami terjadi persaingan antar-cacing itu sendiri.

Konsep panen cacing sutera ialah mengurangi koloni, yaitu jika bagian atas dipanen maka bagian bawah cacing akan tumbuh. Dalam satu wadah/nampan bisa menghasilkan 100-150 ml cacing sutera.Panen cacing sutera dilakukan setelah budidaya berlangsung beberapa minggu dan berturut-turut bisa dipanen setiap dua minggu sekali. Pemanenan cacing sutra dilakukan dg mengambil ca-sut yg ada dipermukaan bersama lumpurnya.Setelah terkumpul, hasil panen casut dicuci dg jaring khusus sampai lumpur halus keluar. Kemudian tiriskan sebentar.
Letakkan cacing sutrayg masih bercampur lumpur kasar kedlm wadah dg ketebalan 3-4 cm.


Semoga Bermanfaat...

Monday, February 2, 2015

Penggunaan Vaksin Pada Ikan

Budidaya ikan tak lepas dari beberapa hambatan yang harus dilalui dan dipecahkan. Salah satu penghambat dalam budidaya perikanan adalah adanya penyakit yang menyerang ikan. Cara penanganan ikan yang sakit (atau pengendalian penyakit) bisa dengan pencegahan maupun pengobatan.

Obat dan antibiotika efektif dalam pengobatan penyakit parasitikdan bakterial, tetapi antibiotika menimbulkan masalah, antara lain resistensi bakteri, residu antibiotika di ikan (untuk keamanan pangan) dan residu antibiotika di perairan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Karena itulah beberapa produk perikanan Indonesia di tolak pasar Uni Eropa karena terdapat residu antibiotik.

Cara yang paling murah dan efisien dalam pengendalian penyakit adalah dengan pencegahan. Mencegah timbulnya penyakit dapat dengan pengelolaan lingkungan, penggunaan pakan yang tepat mutu, tepat jumlah,dan tepat pemberiannya. Salahsatu cara pencegahan yang sekarang sudah mulai diaplikasikan adalah dengan cara menimbulkan kekebalan tubuh.
Gerakan Vaksinasi Ikan
Kekebalan pada ikan dapat ditimbulkan baik dengan menggunakan vaksin maupun dengan menggunakan imunostimulator lain. Prinsip dasar vaksinasi yaitu memasukkan vaksin/antigen kedalam tubuh ikan sehingga antigen tersebut merangsang system imun tubuh ikan untuk memproduksi antibodi(kekebalan specifik). Dengan hanya 1 atau dua kali pemberian vaksin biasanya daya tahan tubuh/kekebalan akan bertahan sampai akhir masa pemeliharaan ikan. Vaksinasi memiliki beberapa keunggulan, yaitumampu menggantikan antibiotik, tidak ada dampak negatifpada ikan, tanpa residu berbahaya, tidak membuat patogen resisten, serta bisa diterima pasar (ekspor). (sumber)

Mengapa VAKSINASI IKAN..??
Dalam budidaya oerikanan faktor yang diperlukan untuk memperoleh kemungkinan pencapaian Survival Rate (SR) tertinggi, yaitu:

  1. Nutrisi yang baik
  2. Benih berkualitas yang baik
  3. Cara penanganan dan budidaya yang baik
  4. Diterapkan manajemen kesehatan
  5. Vaksin merupakan metode terbaik untuk meningkatkan SR dan keuntungan budidaya ikan. 

Apa itu VAKSIN..?
Suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme, komponen tersebut yang telah dilemahkan, dimatikan atau direkayasa genetika dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktiv.

Persyaratan VAKSIN yang ideal
Penggunaan vaksin pada ikan budidaya harus memperhatikan beberapa faktor sehingga dalam penggunaan vaksin akan tepat guna dan manfaat. Adapun persyaratan vaksin yang ideal adalah sebagai berikut :
  1. Aman bagi ikan, lingkungan air dan konsumen
  2. Vaksin harus spesifik untuk pathogen tertentu
  3. Vaksin harus dapat melindungin ikan dalam waktu yang lama minimal satu siklus produksi
  4. Mudah didapat, mudah diterapkan dan ekonomis
  5. Terdaftar di Kementerian Kelautan dan Perikanan

Pertimbangan dalam melakukan VAKSINASI IKAN
  1. Spesies ikan
  2. Status sistem imun
  3. Siklus produksi dan siklus hidup
  4. Penyakit apa yang akan dikendalikan
  5. Kapan wabah penyakit biasa terjadi
  6. Tingkat  teknologi yang diterapkan
  7. Lingkungan (temperature)
  8. Faktor-faktor stress
  9. Nutrisi
Metode VAKSINASI IKAN
  1. Perendaman
  2. Media Pakan
  3. Penyuntikan
Hal-hal yang perlu diketahui saat aplikasi VAKSIN pada ikan, antara lain :
  1. Pemberian vaksin pada ikan melalui teknik yang direkomendasikan misalkan melalui penyuntikan, perendaman atau melalui pakan.
  2. Untuk pemberian vaksin yang memiliki proteksi yang relatif singkat (beberapa hari atau minggu) harus diperlukan vaksinasi ulang (booster).
  3. Pemberian vaksin harus mempertimbangkan umur/ukuran ikan yang rentan terhadap jenis penyakit yang menjadi target untuk dicegah, serta saat/musim muncul penyakit tersebut.
  4. Perhatikan dan ikuti prosedur transportasi, penyimpanan dan pemberian vaksin sesuai dengan yang direkomendasikan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan VAKSINASI IKAN :
  1. Bila pemberian vaksin melalui perendaman atau pakan sebaiknya ikan telah berumur 1 minggu atau lebih
  2. Pemberian vaksin dengan penyuntikan maka ukuran jarum suntik harus disesuaikan dengan ukuran ikan
  3. Ikan harus dalam kondisi sehat (tidak sakit/stress)
  4. Suhu air relatif hangat (diatas 25ÂșC) karena respon antibodi ikan akan lebih cepat
  5. Air yang digunakan untuk aplikasi vaksin dan pemeliharaan harus bebas dari polutan
Perbandingan Keunggulan dan Kelemahan metode VAKSINASI IKAN


Beberapa VAKSIN IKAN yang digunakan untuk akuakultur di Indonesia














Aplikasi VAKSINASI IKAN
* TEKNIK PERENDAMAN
Penggunaan Vaksin KV3 untuk pencegahan penyakit Koi Herves Virus (KHV)
Vaksin KV3 untuk penyakit Koi Herves Virus
  1. Pilih ikan yang akan divaksin adalah hanya ikan mas yang dalam kondisi sehat, dengan bobot minimal 10 gr/ ekor dan umur minimal 3 bulan sejak menetas.
  2. Jumlah ikan yang akan divaksin sebanyak 250 – 300 Kg atau sekitar 25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr ) per 100 ml vaksin KV 3 ( per botol ).
  3. Siapkan bak metal/ fiberglass/kolam keramik untuk proses vaksinasi dengan kapasitas  minimal  1500 liter.
  4. Isi dengan  air sumur atau air tampungan hujan ( lebih baik yang sudah diendapkan lebih dahulu ) sebanyak 1000 liter.
  5. Jaga parameter kondisi air dengan kisaran suhu 200C - 250C.
  6. Gunakan aerator, water pump dan es balok jika diperlukan untuk menjaga kestabilan parameter air
  7. Siapkan vaksin KV 3 beku 100 ml di dalam wadah freezer/ ice cooler.
  8. Masukan benih ikan mas yang sudah dipersiapkan untuk divaksin sebanyak 250- 300 Kg atau sekitar  25.000 – 30.000 ekor ( @ 10 gr )  ke dalam bak vaksinasi tersebut.
  9. Pelarutan vaksin dilakukan dengan cara memasukan botol vaksin yang dalam keadaan beku,  lalu buka tutupnya dan langsung masukan ke dalam tangki vaksinasi sambil digoyang2kan hingga larut seluruhnya.
  10. Laksanakan proses vaksinasi selama 45 - 60 menit sejak seluruh vaksin larut.
  11. Jaga parameter kondisi air agar tetap stabil selama proses vaksinasi ( suhu 200C - 250C, kandungan oksigen terlarut 6 ppm, ph 6,8 – 7,4 ).
  12. Setelah selesai proses vaksinasi 45 - 60 menit, pindahkan benih ikan mas  tersebut  ke bak penampungan.
  13. Larutan bekas rendaman masih dapat digunakan 1 kali lagi dengan jumlah ikan yang sama.
Teknik vaksinasi ikan dengan perendaman

* TEKNIK PENYUNTIKAN
Penggunaan Vaksin Anti Aeromonas dan Vaksin Streptococcus
Vaksin untuk Aeromonas

Vaksin 
  1. Teknik ini cocok untuk calon induk atau induk ikan.
  2. Aplikasi dapat dilakukan secara intraperitoneal (i.p)/ bagian perut atau intramuskuler (i.m)/ bagian otot.
  3. Dosis yang diberikan adalah 0.1-0.2 ml/kg bobot ikan.
Pemberian vaksin dengan teknik penyuntikan

* TEKNIK ORAL (PEMBERIAN PAKAN)
Pemberian vaksin dengan teknik oral (pemberian pakan)
  1. Larutkan progol dalam air hangat, 2-3 gr progol dengan 1 gelas air. Fungsinya sebagai perekat.
  2. Campurkan dengan vaksin 3 ml
  3. Campurkan ke dalam pakan untuk 1kg pakan
  4. Dikering anginkan dan siap diberikan ke ikan
  5. Pemberian vaksin melalui pakan dilakukan selama 5 hari berturut-turut

sumber : Astuti, SP. Aplikasi Vaksin. Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan Balai Pengembangan Teknologi Perikanan dan Kelautan

Semoga Bermanfaat...